Dalam sebuah diskusi yang memancing nalar publik, ketua Dewan Pakar Gerakan Rakyat, Sulfikar Amir melontarkan sebuah skenario hipotetis namun sarat makna kepada Anies Baswedan. Pertanyaannya sederhana namun menukik tajam ke jantung protokol internasional dan harga diri sebuah bangsa: Bagaimana jika Anies, sebagai Presiden, berada dalam posisi di mana kepala negara lain "menyuruhnya" memegang piagam kesepakatan?
Pertanyaan ini bukanlah tanpa konteks. Publik diingatkan pada momen viral di mana Prabowo Subianto terlihat diminta oleh Donald Trump untuk memegang sebuah dokumen di tengah kerumunan pemimpin dunia. Bagi sebagian orang, itu adalah keramahan; namun bagi penganut teori kedaulatan, itu adalah simbol hierarki.
Antara Protokol dan Marwah
Jawaban Anies Baswedan mencerminkan pemahaman mendalam tentang "Diplomasi Kesetaraan". Anies menegaskan bahwa jika situasi itu terjadi padanya, ia tidak akan memegang piagam tersebut sendiri. Sebaliknya, ia akan memberikan isyarat agar orang lain—staf atau pejabat di bawah level kepala negara—yang mengambil dan memegangnya.