Tutup Iklan
powerman
  
login Register
Pendidikan Politik untuk Masyarakat lebih Cenderung ke Arah Politik "Gorengan"

Pendidikan Politik untuk Masyarakat lebih Cenderung ke Arah Politik "Gorengan"

28 November 2018 | Dibaca : 300x | Penulis : Rahmat Zaenudin

Tampang.com - Suhu politik jelang Pileg dan Pilpres 2019 yang akan digelar bulan April 2019 mendatang semakin panas. Panasnya suhu politik ini terutama karena pertarungan di Pilpres 2019 antara kubu petahana Jokowi-Ma'ruf Amin dan Pasangan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno. Kedua pasangan calon ini akan mengulangi pertarungan mereka seperti pada Pilpres 2014 yang lalu.

Kenapa suhu politik semakin panas ? perang kata-kata dan perdebatan yang kerap dipertontonkan di stasiun televisi maupun you tube menjadi penyebab utama suhu politik di Pilpres ini semakin panas. Mungkin masyarakat sudah sering melihat bahkan mulai jenuh betapa kedua team pemenangan baik dari kubu Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo- Sandiaga Uno hanya berdebat soal kata-kata dan ucapan yang baik sengaja maupun tidak sengaja diucapkan kedua pasangan capres dan cawapres ini.

Kasus Ratna Sarumpaet yang membuat heboh seantero jagat nusantara karena hoaxnya, hingga membuat kubu Prabowo harus meminta maaf karena sudah dibohongi Ratna Sarumpaet langsung mendapat respon yang luar biasa alias "gorengan" dari kubu Jokowi.

Kubu Jokowi menganggap Probowo mudah sekali dibohongi oleh seorang Ratna Sarumpaet yang awalnya merupakan salah seorang dari team Badan Pemenangan Nasional ( BPN ) Prabowo-Sandi dan ikut menyebarkan berita hoax Ratna Sarumpaet.

Pernyataan Prabowo Subianto saat di Boyolali yang menyebut "Tampang Boyolali", diartikan kubu Jokowi sebagai sebuah ucapan yang menghina masyarakat kecil terutama masyarakat Boyolali, bahkan Bupati Boyolali sampai mengerahkan massa untuk berdemo beraksi atas ucapan Prabowo yang sebenarnya tidak sama sekali menghina masyarakat Boyolali.

Pernyataan Prabowo yang merasa prihatin dengan anak-anak generasi penerus bangsa yang lulus sekolah menengah atas atau kejuruan yang pada akhirnya bekerja sebagai "Ojek Online" atau Ojol bahkan banyak lulusan sarjana yang juga berprofesi sebagai Ojol, langsung "Digoreng" bahwa Prabowo menghina pekerjaan Ojek Online.

Kalau didalami secara akal sehat dan realita yang ada sekarang ini, tidak bisa dipungkiri susahnya lapangan kerja yang ada membuat profesi "OJOL" menjadi pilihan masyarakat saat ini dengan alasan "Daripada Nganggur:. Cobalah tanya kepada para driver Ojol ini apa alasan mereka memilih profesi sebagai driver Ojol ? tanyakan apa mencukupi kebutuhan keluarga mereka ? tanyakan apa mau anak-anak mereka setelah lulus sekolah menjadi driver Ojol ?

Pasangan nomor urut 02, Prabowo-Sandi sebenarnya ingin menyampaikan apa yang jadi realita sekarang di masyarakat dan rasanya bukan untuk menyerang kubu petahana. Sangatlah wajar jika pasangan ini menerima dan menyampaikan keluhan masyarakat terkait kehidupan ekonomi saat ini.

Politikus Sontoloyo, Politikus Genderuwo dan "Tabok" yang diucapkan Jokowi pada pidato-pidatonya, bisa jadi sebagai reaksi atas apa yang sudah dikerjakan pasangan Prabowo-Sandi. Namun sayangnya, rasanya tidak ada seseuatu yang mau disampaikan yang berkaitan dengan kehidupan ekonomi masyarakat saat ini.

Pernyataan-pernyataan Jokowi ini seolah hanya diucapkan untuk kubu Prabowo-Sandi tanpa ada pesan terkait dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Masyarakat seolah tidak peduli dengan kata-kata yang diucapkan kedua pasangan capres ini karena buat masyarakat, hidup sejahtera, ekonomi membaik, lebih penting daripada kata-kata yang diucapkan para elit politik.

Masyarakat seolah hanya disuguhkan Politik "Gorengan" tanpa ada manfaatnya buat masyarakat. Pendidikan politik kepada masyarakat yang baik bukanlah lewat kata-kata yang seolah hanya saling menjatuhkan saja tapi pendidikan politik yang ingin diperoleh masyarakat yaitu lewat visi dan misi apa yang disampaikan kedua pasangan capres dan cawapres ini untuk lebih meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia kearah yang lebih baik.

"Gorengan" memang makanan yang renyah dan banyak disukai masyarakat kita, namun jangan salah jika gorengan juga banyak dampak buruknya bagi kesehatan jika dikemas dan disuguhkan dengan tidak baik.

Semoga saja Pileg dan Pilpres 2019 kedepan menjadi pertarungan politik yang aman, damai, jujur tanpa adanya kecurangan, adil dan membawa kebaikan untuk masyarakat Indonesia.

#Tagar Berita

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Dilamar Klub Malaysia, Rezaldi Hehanusa Pilih Bertahan di Persija Jakarta
22 November 2017, by Admin
Tampang.com - Pemain muda Persija Jakarta Rezaldi Hehanussa tengah dalam karir yang gemilang pada musim ini. Tak heran, berbagai klub baik dalam dan luar ...
cegah kanker
19 Juli 2017, by Retno Indriyani
Tampang.com - Indonesia patut berbangga dengan generasi muda yang berprestasi dan terus menciptakan inovasi diberbagai bidang. Baru-baru ini mahasiswa ...
Mengerikan, Kuntilanak Ada Di Korea Selatan
5 Agustus 2017, by Slesta
Tampang.com – Indonesia dikenal sebagai negara yang selalu berhasil menakut – nakuti public. Hantu kuntilanak, misalnya, ternyata efek kengeriannya ...
mahkota sport
8 Juni 2017, by Tonton Taufik
Pengusaha bernama Surya Mutiara, kelahiran Cirebon, 17 Juni 1973, ingin menyumbangkan CSR (Corporate Social Responsibility) berupa Akademi Sepakbola untuk ...
Massimo Moratti: Inter Milan Scudetto 2017/2018? Itu bukan khayalan.
21 November 2017, by Rachmiamy
Dalam beberapa tahun terakhir salah satu raksasa Italia Inter Milan tidak mampu menampilkan penampilan terbaiknya di Liga Italia Seri A. Selama lima tahun ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
powerman