BMKG juga mengingatkan pentingnya sikap waspada namun tetap tenang. Masyarakat diimbau untuk memastikan diri berada di lokasi aman saat terjadi gempa dan mengikuti prosedur keselamatan standar, seperti menjauhi bangunan rapuh, benda berat yang mudah jatuh, serta memastikan akses evakuasi tetap terbuka. Pendidikan bencana dan kesadaran masyarakat tetap menjadi kunci untuk meminimalkan risiko akibat gempa bumi.
Peristiwa gempa di Maluku Tenggara ini sekaligus menjadi pengingat bahwa Indonesia berada di wilayah ring of fire, jalur seismik aktif yang rawan gempa dan letusan gunung berapi. Sejarah menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia memiliki potensi gempa yang cukup tinggi, sehingga kesiapsiagaan adalah langkah yang tak kalah penting dibandingkan hanya menunggu bencana terjadi.
Meski gempa kali ini tidak menimbulkan tsunami, BMKG menekankan bahwa sistem peringatan dini tetap aktif untuk memantau aktivitas seismik di seluruh wilayah Indonesia. Teknologi pengindraan modern memungkinkan BMKG memberikan peringatan cepat agar masyarakat dapat mengambil langkah aman. Pengembangan sistem ini merupakan upaya berkelanjutan untuk meningkatkan ketahanan nasional terhadap bencana alam.
Selain aspek keselamatan fisik, gempa bumi juga berdampak psikologis. Getaran yang terasa kuat, meski singkat, dapat menimbulkan kepanikan atau kecemasan bagi sebagian warga. Oleh karena itu, informasi akurat dari sumber resmi menjadi penting untuk menenangkan masyarakat, sekaligus mencegah rumor yang bisa memicu kepanikan lebih lanjut.
Gempa bumi di Maluku Tenggara mengingatkan kita semua akan ketidakpastian alam dan pentingnya kesiapsiagaan. Dari memahami protokol keselamatan, memastikan lokasi evakuasi, hingga menyimpan informasi resmi dari BMKG, semua langkah kecil bisa berdampak besar dalam mengurangi risiko. Kesadaran dan ketenangan masyarakat adalah pertahanan pertama terhadap bencana alam.