Jika ada satu rasa yang dominan dalam masakan Indonesia, itu adalah gurih. Dari seporsi nasi goreng yang kaya rempah, semangkuk bakso yang berkuah kaldu kental, hingga rendang yang legit, cita rasa gurih seolah menjadi jiwa dari setiap hidangan. Preferensi kuat terhadap rasa ini bukanlah kebetulan belaka. Ada banyak faktor yang membentuk selera kuliner ini, mulai dari sejarah, kekayaan alam, hingga kebiasaan sehari-hari yang sudah mengakar kuat.
Sejarah dan Geografi: Melimpahnya Rempah dan Sumber Protein
Kecintaan orang Indonesia pada rasa gurih tidak bisa dilepaskan dari sejarah dan geografi kepulauan. Sejak dahulu kala, Nusantara adalah pusat perdagangan rempah-rempah yang tersohor. Rempah-rempah seperti cengkeh, pala, lada, dan ketumbar, yang banyak digunakan dalam masakan, tidak hanya memberikan aroma, tetapi juga menambah kedalaman rasa yang kompleks dan gurih. Penggunaan rempah ini menjadi ciri khas masakan Indonesia.
Selain rempah, Indonesia juga kaya akan sumber daya alam yang melimpah, terutama dari laut. Ikan, udang, dan berbagai jenis seafood lainnya merupakan sumber protein hewani yang mudah didapat. Seringkali, makanan-makanan ini diolah dengan cara direbus atau digoreng hingga menghasilkan kaldu atau minyak yang secara alami mengeluarkan rasa gurih yang khas. Penggunaan terasi atau petis, yang merupakan produk fermentasi dari hasil laut, juga menjadi elemen penting yang memberikan sentuhan gurih yang kuat dan unik pada masakan.
Peran Bumbu Dasar dan Tradisi Memasak
Dalam dapur tradisional Indonesia, ada bumbu dasar yang selalu digunakan, seperti bawang merah, bawang putih, kemiri, dan cabai. Bumbu-bumbu ini ditumis atau dihaluskan bersama rempah, menciptakan pasta bumbu yang menjadi fondasi setiap masakan. Proses menumis bumbu hingga matang dan beraroma ini sering disebut sebagai "mengeluarkan sarinya," yang tidak lain adalah proses pelepasan senyawa-senyawa yang memberikan cita rasa gurih. Kebiasaan ini sudah turun-temurun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari cara memasak orang Indonesia.