Selain itu, teknik memasak seperti merebus dalam kaldu juga sangat populer. Semangkuk soto atau sup yang lezat kuncinya terletak pada kaldu yang kaya rasa. Kaldu dibuat dari tulang ayam, sapi, atau ikan yang direbus dalam waktu lama, sehingga semua sari-sari alaminya keluar. Rasa gurih yang dihasilkan dari kaldu ini terasa sangat autentik dan menenangkan, memberikan efek kenyamanan bagi siapa pun yang menyantapnya. Ini adalah cara alami orang Indonesia mendapatkan cita rasa gurih tanpa tambahan bahan instan.
MSG dan Adaptasi Selera di Era Modern
Perkembangan zaman membawa serta inovasi dalam dunia kuliner, termasuk kemunculan monosodium glutamat (MSG). Zat ini, yang sering disebut sebagai "penyedap rasa," merupakan representasi dari rasa umami atau gurih yang kuat. MSG dibuat dari fermentasi tebu, jagung, atau singkong, yang menghasilkan asam amino glutamat. Asam amino ini secara alami juga ditemukan dalam makanan gurih seperti keju, tomat, dan jamur.
Masyarakat Indonesia, yang sudah memiliki selera dasar terhadap rasa gurih, dengan mudah menerima kehadiran MSG. Penggunaan MSG dalam masakan menjadi jalan pintas untuk mendapatkan rasa gurih yang cepat dan konsisten, tanpa harus melalui proses panjang seperti membuat kaldu atau meracik bumbu dari nol. Ini membuat MSG menjadi sangat populer, baik di rumah tangga maupun di industri makanan, karena bisa menyempurnakan rasa makanan dalam waktu singkat.
Namun, penting juga untuk diingat bahwa MSG bukanlah satu-satunya sumber rasa gurih. Penggunaan MSG hanya menguatkan rasa alami yang sudah ada. Rasa gurih sejati dari masakan tradisional tetap datang dari bumbu rempah-rempah, kaldu, santan, dan bahan alami lainnya.