Hebatnya, kondisi ini bisa terjadi pada orang yang sehat, yang tidak memiliki riwayat penyakit jantung sebelumnya. Ini bukan serangan jantung biasa. Pada serangan jantung normal, ada sumbatan di pembuluh darah jantung yang menghentikan aliran darah, menyebabkan kerusakan permanen pada otot jantung. Sedangkan pada broken heart syndrome, tidak ada sumbatan. Kerusakan pada jantung bersifat sementara dan biasanya bisa pulih.
Gejala yang Mirip Serangan Jantung
Gejala broken heart syndrome sangat mirip dengan serangan jantung, yang membuat penderitanya sering salah diagnosis di awal. Gejala yang paling umum adalah:
Nyeri dada parah: Rasa sakit yang tiba-tiba dan menusuk di area dada.
Sesak napas: Merasa kesulitan bernapas atau napas terasa berat.
Beberapa gejala lain bisa termasuk pusing, mual, dan detak jantung yang tidak teratur. Karena kemiripan gejala ini, orang yang mengalami sindrom ini harus segera dibawa ke instalasi gawat darurat untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Tim medis akan melakukan berbagai tes, seperti elektrokardiogram (EKG), tes darah, dan angiogram koroner (prosedur untuk melihat pembuluh darah jantung). Hasil angiogram akan menunjukkan pembuluh darah yang bersih tanpa sumbatan, membedakannya dari serangan jantung.
Siapa yang Berisiko dan Bagaimana Penanganannya?
Meskipun bisa terjadi pada siapa saja, sindrom ini paling sering menyerang perempuan pascamenopause. Para ahli meyakini ada kaitan dengan penurunan hormon estrogen setelah menopause, yang mungkin membuat jantung lebih rentan terhadap dampak hormon stres.