Penanganan untuk kardiomiopati takotsubo biasanya bersifat suportif. Karena kondisi ini biasanya sementara, pasien dirawat di rumah sakit untuk memantau kondisi jantung dan diberi obat-obatan untuk mendukung fungsi jantung, seperti beta-blocker atau ACE inhibitor. Pengobatan ini bertujuan untuk mengurangi beban kerja jantung dan mencegah masalah lebih lanjut. Sebagian besar pasien bisa pulih sepenuhnya dalam beberapa minggu hingga sebulan, tanpa ada efek jangka panjang pada fungsi jantung.
Yang terpenting dalam penanganan adalah mengelola pemicu stres. Begitu kondisi fisik stabil, penderita perlu mencari cara untuk mengatasi stres emosional atau fisik yang memicu sindrom ini. Bisa dengan terapi, konseling, atau aktivitas yang menenangkan seperti meditasi, yoga, atau olahraga ringan. Mencegah pemicu stres di masa depan adalah kunci untuk menghindari kambuhnya sindrom ini. Broken heart syndrome adalah pengingat nyata bahwa ada kaitan erat antara kesehatan mental dan fisik. Emosi dan stres yang kita rasakan bukan hanya masalah di kepala; mereka memiliki dampak nyata pada tubuh. Menjaga kesehatan emosional sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik.