Alasan yang tidak kalah pentingnya adalah upaya penghematan biaya riset pasar. Ketika salah satu minimarket berdiri di lokasi tertentu, dapat dipastikan bahwa potensi pasar di tempat tersebut telah melalui uji kelayakan bisnis yang cukup memadai. Ini menjadi salah satu rubrik penting dalam pengembangan usaha waralaba, khususnya di sektor ritel minimarket, karena bisa menjamin keberlangsungan bisnis di masa depan.
Lebih dari itu, baik Indomaret maupun Alfamart juga mengadopsi strategi analisis bisnis yang disebut Porter’s Five Forces. Strategi ini membantu kedua minimarket dalam memetakan posisi masing-masing di pasar serta memahami berbagai faktor yang mempengaruhi daya saing. Dalam Porter’s Five Forces, terdapat beberapa komponen yang penting, seperti:
1. Competitive Rivalry: Ketatnya persaingan di lingkungan bisnis ini mendorong kedua minimarket untuk selalu berinovasi. Hal ini diperlukan agar produk dan layanan yang ditawarkan tetap relevan dan menarik bagi konsumen.
2. Power of Buyer: Konsumen memiliki kekuatan dalam menentukan pilihan. Mereka dapat membandingkan harga serta kualitas barang antara Indomaret dan Alfamart. Keberadaan dua gerai ini berdekatan memberi konsumen keleluasaan untuk memilih di mana mereka akan berbelanja, berdasarkan harga dan kenyamanan yang ditawarkan.
3. Power of Supplier: Dalam hal ini, semakin sedikitnya jumlah pemasok untuk suatu produk mengindikasikan bahwa minimarket akan memiliki ketergantungan tinggi pada supplier tersebut. Dengan demikian, hubungan yang baik dengan pemasok menjadi kunci bagi kedua minimarket untuk menjaga kualitas dan keberlanjutan pasokan barang.