Tampang

Kenapa Bitcoin Disebut ‘Emas Digital’?

25 Agu 2025 21:49 wib. 42
0 0
Bitcoin
Sumber foto: Canva

 Bitcoin seringkali disebut sebagai 'emas digital'. Sebutan ini bukan sekadar julukan kosong, melainkan cerminan dari karakteristik fundamental yang membuat aset kripto ini memiliki nilai yang serupa dengan emas. Sejak kemunculannya, Bitcoin telah menarik perhatian karena kemampuannya berfungsi sebagai penyimpan nilai dan aset lindung nilai, sama seperti emas yang telah dipercaya ribuan tahun. Untuk memahami analogi ini, kita perlu melihat lebih dekat bagaimana Bitcoin mereplikasi sifat-sifat langka dan berharga dari emas dalam ranah digital.

Kelangkaan dan Pasokan yang Terbatas

Salah satu alasan utama mengapa Bitcoin dijuluki emas digital adalah kelangkaannya yang terprogram. Sama seperti pasokan emas yang terbatas di perut bumi, jumlah total Bitcoin yang bisa ada di dunia juga dibatasi. Menurut protokolnya, hanya ada 21 juta Bitcoin yang akan pernah diciptakan. Kelangkaan buatan ini adalah fondasi dari nilainya. Begitu seluruh 21 juta Bitcoin ditambang, tidak ada lagi Bitcoin baru yang akan masuk ke pasar. Ini sangat kontras dengan mata uang fiat (seperti Rupiah atau Dolar) yang bisa dicetak oleh bank sentral tanpa batas, yang berpotensi menyebabkan inflasi. Sifat deflasi ini membuat Bitcoin menarik sebagai aset yang nilainya diharapkan akan terus meningkat seiring waktu, terutama seiring dengan meningkatnya permintaan.

Sifat kelangkaan ini diperkuat oleh mekanisme halving, sebuah peristiwa yang terjadi kira-kira setiap empat tahun sekali di mana imbalan untuk penambang Bitcoin berkurang setengah. Halving ini memperlambat laju penciptaan Bitcoin baru dan secara efektif meningkatkan kelangkaannya dari waktu ke waktu. Proses ini sangat mirip dengan penambangan emas yang semakin sulit dan mahal seiring dengan semakin langkanya cadangan emas yang mudah diakses.

<123>

#HOT

0 Komentar

Belum ada komentar di artikel ini, jadilah yang pertama untuk memberikan komentar.

BERITA TERKAIT

BACA BERITA LAINNYA

POLLING

Dampak PPN 12% ke Rakyat, Positif atau Negatif?