Fokus PHE pada Eksplorasi & Teknologi
Tidak hanya mengandalkan operasi pengembangan, PHE juga konsisten menggencarkan usaha eksplorasi untuk memastikan keberlanjutan cadangan migas di masa depan. Sepanjang 2025, survei seismik 2D seluas 2.931 kilometer dan 3D seluas 855 kilometer persegi berhasil dilaksanakan. Selain itu, sebanyak 20 sumur eksplorasi dibor untuk dapat menemukan potensi sumber daya migas baru.
Upaya ini membuahkan hasil dengan penemuan sumber daya migas kategori 2C mencapai 1.097 juta barel setara minyak (MMBOE), di mana sebagian besar berasal dari sumur migas non-konvensional di area Aman Trough, Wilayah Kerja Rokan. Tak hanya itu, cadangan terbukti (P1) juga meningkat hingga 313,7 juta barel setara minyak, menandai perbaikan posisi cadangan migas nasional secara signifikan.
Teknologi pun menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi Pertamina Hulu Energi. Untuk menekan turunnya produksi di lapangan tua, PHE menerapkan teknologi Multistage Fracturing (MSF) pada beberapa sumur di WK Rokan. Inovasi ini menjadikan PHE sebagai pionir penerapan teknologi mutakhir di sektor hulu migas Indonesia yang diharapkan bisa menjadi model operasi untuk lapangan-lapangan lain di masa mendatang.
Proyek Strategis yang Jadi Penopang
Selain fokus pada kegiatan eksplorasi dan peningkatan efisiensi operasi, sejumlah proyek migas strategis telah berkontribusi besar terhadap pencapaian target produksi. Beberapa di antaranya adalah:
Proyek Put on Production and Exploration (POPE) sumur Astrea, Pinang East, dan Akasia Prima.
Keberhasilan pemboran di wilayah strategis seperti Lembak – Kemang – Tapus dan Benuang yang turut meningkatkan produksi minyak.
Proyek-proyek utama seperti Sisi Nubi Area 1-3-5, CEOR Lapangan Minas Area A Stage-1, dan Lapangan Gas Senoro Selatan oleh PHE Tomori.