Tutup Iklan
hijab
  
login Register
Tips Mengajak Kembali Siswa Yang Sudah Jarang Sekolah

Tips Mengajak Kembali Siswa Yang Sudah Jarang Sekolah

11 Mei 2017 | Dibaca : 1991x | Penulis : Fikri Faturrahman

Sekolah menjadi sebuah tempat bagi seseorang untuk menempuh pendidikannya. Sebut saja pendidikan formal. Kita bisa melihat sendiri untuk pendidikan dasar dan menengah sudah banyak yang menempuhnya. Hal ini menjadi perhatian penuh pemerintah sehingga adanya perubahan nomenklatur dan tugas pokok fungsi kementerian yang semula bernama kementerian pendidikan dan kebudayaan fokus dalam dikdasmen, dan kementerian riset, teknologi dan pendidikan tinggi. Keduanya memiliki keterkaitan yang kuat. Khususnya peran kemendikbud dalam menyiapkan serta mengelola pendidikan dasar dan menengah, kemenristekdikti menyiapkan dan mengelola Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan sebagai sumber daya atau pelaku pendidikan baik formal dan non-formal. Tapi kali ini kita akan lebih fokus kepada pendidikan formal, sekolah yang sering kita melihat banyak sekali masalah didalamnya. Dari sekian masalah yang muncul, masalah siswa yang jarang sekolah lah yang sering menjadi kebingungan para guru dan orang tua. Mereka berpikir keras agar anaknya mau sekolah lagi. Namun, usaha itu tak jarang mengalami kegagalan dan berujung keputus asaan. Akhirnya anak kandas untuk melanjutkan pendidikan karena tidak ada lagi motivasi atau karena kurangnya perhatian. Nah, oleh karena itu mari kita simak tips-tipsnya.

Jangan Menghakimi!

Ini yang sering kita temukan di lapangan. Adanya sebuah labelling dari guru maupun orang tua atau bahkan temannya yang menilai bahwa siswa yang jarang sekolah adalah siswa yang pemalas, nakal, tidak berprestasi, tidak punya potensi untuk berprestasi, dan penilaian lainnya yang secara tidak langsung memberikan label kepada diri anak tersebut. Penilaian negatif yang dilontarkan menjadi pengaruh terhadap konsep diri dari anak tersebut. Sehingga, bagaimanapun penangannya akan selalu buntu karena ada labelling yang kuat kepada anak dan tidak mau melihat sisi lain yang lebih positif.

 

Dengarkanlah, Ia Butuh Perhatian

Sejujurnya, anak-anak yang jarang masuk sekolah atau bahkan berbulan-bulan tidak masuk sekolah bukan karena ia malas, tak mau belajar, atau alasan lainnya. Namun, ada hal yang harus ia sampaikan entah itu masalah yang dihadapinya atau harapan keinginannya sehingga membutuhkan pendengar setia. Guru dan orang tua hendaklah menjadi pendengar setianya. Ketika anak sudah jarang lagi masuk sekolah, cobalah untuk mendengar terlebih dahulu apa keluhannya sebelum guru dan orang tua memberikan saran. Sehingga, anak akan lebih merasa dihargai dan memiliki langkah kedepan untuk berubah.

 

Cari Faktornya!

Ketika seseorang mengalami masalah pasti ada faktor yang mempengaruhi masalah tersebut. Sama halnya seperti anak yang sudah jarang sekali masuk sekolah. Faktor itu ada yang muncul dalam diri dan luar dirinya. Biasanya, faktor dari dalam dirinya itu pula dipengaruhi oleh faktor luarnya. Semisal, anak yang sudah jarang masuk sekolah setelah ditanya bahwa ia tidak mau sekolah sebab malas. Namun ternyata malas bukan faktor utamanya, ada faktor lingkungan pergaulan yang lebih lagi. Seringkali lingkungan pergaulannya itu yang membuat ia nyaman. Apalagi yang lebih mengerikan adalah bila anak sudah bergaul dengan anak-anak atau orang dewasa yang sudah tidak sekolah dan bekerja kemudian anak melihatnya sebagai role model, akhirnya akan muncul pemikiran bahwa tanpa sekolah pun bisa bekerja menghasilkan uang.

 

Kerjasama antara Guru, Orang Tua, Siswa, dan Teman Pergaulannya

Jangan heran jika penanganan gagal terus bila dilakukan hanya seorang diri. Kerjasama yang baik antara guru khususnya guru BK yang memiliki pemahaman tentang psikologi anak, orang tua sebagai subjek utama yang memiliki keterkaitan kuat dengan anak, siswa lainnya sebagai teman sejawat untuk merangkul kembali, dan teman pergaulannya yang mempengaruhi anak tidak lagi masuk sekolah. Keempat subjek tersebut harus beriringan memberikan motivasi kepada anak untuk kembali masuk sekolah. Hal ini memang butuh proses, tapi kerjasama semakin baik maka akan semakin cepat pula tuntas. Sehingga anak bisa kembali ke sekolah.

 

Kejar Terus!

Tips yang kelima ini menarik karena pernah saya coba. Seorang guru sekali-kali mesti memiliki instink sebagai seorang detektif dan superhero. Mengejar terus siswa yang jarang masuk sekolah. Entah itu terus mengunjungi rumahnya dan ajak untuk berdialog, jika anak sering main game online maka datangilah warnetnya dan ajak kembali berdialog bahkan sampai kita mengetahui games apa yang dimainkannya sehingga kita bisa mengambil hati anaknya, jika betemu di perjalanan maka langsung sapa dan tanyakan kapan ia akan ke sekolah lalu berilah motivasi, jika ia kabur carilah! Maka, semakin kita bersemangat untuk mengajak ia kembali ke sekolah, semakin siswa akan berpikir bahwa ada guru yang berkorban untuk membuat ia sekolah kembali. Maka, saya yakin anak itu akan kembali ke sekolah.

 

Apresiasi, Jangan Terus Diintimidasi

Terakhir, ketika anak sudah mulai masuk sekolah ada hal yang amat penting dan kadang terlupakan. Seringkali kita melihat jika ada anak yang sudah jarang masuk sekolah kemudian kembali masuk di hari pertamanya, tak jarang kita melihat guru yang memberikan intimidasi berupa ucapan-ucapan seperti “kamu kemana saja? Gak kasian sama orang tua kamu? Jangan malas” dan ucapan-ucapan lainnya yang membuat ia menjadi turun semangat. Secara psikologis, ketika ada siswa yang sudah jarang masuk sekolah kemudian masuk lagi di hari pertamanya, ia telah berhasil melawan dirinya sendiri dari kemalasan dan pengaruh lingkungannya. Artinya, ada suatu keberhasilan yang patut diapresiasi. Apresiasilah dia bisa dengan ucapan maupun tulisa. Terus lakukan sampai pada akhirnya ia sudah menyadari akan pentingnya sekolah dan menyesali akan perbuatannnya yang lalu.

Semoga tips-tips ini memberikan pencerahan kepada siapapun yang merasa kesulitan ketika melihat anaknya sulit untuk masuk sekolah lagi. Karena ia memiliki masa depan yang cerah, maka doronglah ia untuk kembali ke sekolah. Jika sudah benar-benar tidak ada motivasi lagi untuk sekolah, maka jangan biarkan ia diam. Ajarkanlah terus bahwa hidup ini adalah belajar. Semoga bermanfaat.

 

Tips ini dirangkum berdasarkan pengalaman saya sebagai guru BK

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Menang Lawan Lin Dan, Jonatan Tumbang Ditangan Ng Ka Long Angus
17 November 2017, by Admin
Tampang.com – Tunggal putra andalan Indonesia Jonatan Christie akhirnya harus mengakhiri perjalanannya di Tiongkok Open Superseries Premier 2017, Kamis ...
Family Art Competition 2017 Ajang Kerja sama Orang Tua dan Anak
13 November 2017, by Admin
  Tampang.com  - Perkembangan zaman mendorong penggunaan teknologi makin masif, dengan gadget mau tidak mau menyebabkan berkurangnya waktu bersama ...
Berpergian Dapat Membuatmu 'Kaya' Lho!
6 Maret 2018, by Dika Mustika
Berpergian memang mengeluarkan uang, namun dari ‘pergi’ satu ke ‘pergi’ lainnya coba rasakan deh, kamu akan mendapatkan banyak hal. Dan ...
virus wannacry
18 Mei 2017, by Retno Indriyani
Tampang.com - Ransomeware WannaCry berhasil ditaklukkan oleh pemuda usia 22 tahun. Awalnya pemuda ini tidak ingin identitasnya terungkap dan hanya ingin ...
Konsumsi  Ikan Hiu dan Pengaruh untuk Tubuh Kita
13 September 2017, by Rahmat Zaenudin
Tampang.com- Mitos terhadap kesehatan mendorong permintaan pasar ekspor sirip hiu.. Bagian tubuh hiu terutama sirip, kulit, daging, minyak hati dan tulang ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
glowhite