Tutup Iklan
JasaReview
  
login Register
demo ahok

Idealisme Hangat Hangat Tahi Ayam

11 Mei 2017 | Dibaca : 3881x | Penulis : Tonton Taufik

Sebelum pemilihan:

Armando: "Mayoritas masyarat DKI adalah golongan masyarakat terdidik. Mereka adalah pemilih rasional. Mereka tidak akan terpengaruh oleh isu-isu agama."

Setelah pemilihan:

Armando: "57.9 persen masyarakat DKI GOBLOK semua!"

😩

 

Sebelum hakim memutuskan:

Abu Janda: "Semua harus menerima keputusan hakim. Kita harus belajar dewasa sebagai warga negara. Ini negara hukum, Bung!"

Setelah hakim memutuskan:

Abu Janda: "Hakim b*ngsat! Negara apa ini? Pasti hakimnya disuap! Bebaskan Ahok sekarang juga. Dia tidak bersalah. Jusuf Kalla harus mundur dari kursi Wapres!"

😥

 

Sebelum sidang berakhir:

Jelantik: "Itu yang demo-demo tanggal cantik apa pengangguran semua ya? Seharian demo kayak orang nggak punya kerjaan. Dasar kaum radikal intoleran!"

Dan dari kemarin sore hingga tadi malam, Jelantik termasuk salah satu demonstran yang menangis sambil memeluk tiang listrik di depan LP Cipinang. Membakar apa saja yang bisa dibakar, dan bersama teman-temannya berusaha merobohkan pagar bangunan LP. Dan akhirnya Ahok harus dipindahkan karena keamanannya terancam oleh pendukungnya sendiri.

 

***

 

Armando, Abu Janda, dan Jelantik, adalah gambaran 42% masyarakat kita yang idealismenya bisa berubah-ubah secara drastis, tergantung mood mereka. Perubahannya tidak lagi hitungan tahun. Idealisme mereka bisa berubah dalam hitungan detik.

Mereka begitu mudah mencap orang lain yang tidak sepaham dengan mereka sebagai golongan radikal, anti pancasila, tidak taat hukum, intoleran, dan label-label negatif lainnya. Padahal di satu sisi, mereka sendiri mempraktekkan semua secara vulgar.

Mereka juga yang dulu menangis terisak-isak ketika pemerintahan SBY menaikkan BBM bersubsidi sebesar 500 rupiah, ketika pemerintah saat itu tidak lagi mampu menanggung beban subsidi BBM akibat melonjaknya harga minyak mentah dunia. Mereka mengutuk SBY sebagai vampir penghisap darah rakyat.

Lalu ketika pemerintahan berganti, kemudian mereka berbalik menjadi golongan yang mengutuk orang-orang yang menangis ketika pemerintah menghapus hampir semua subsidi, sebagai golongan masyarakat manja dan pemalas.

Begitulah. Harap maklum. Yang waras ngalah!

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Jaksa mewakili Siapa? Aneh, Jaksa Agung malah Ajukan Banding atas Vonis Ahok
13 Mei 2017, by Zeal
Buntut dari putusan hakim terhadap Ahok dengan vonis penjara selama dua tahun, Jaksa Agung mengajukan banding. "Ya akan mengajukan banding," kata ...
haryanto tangke wijaya
14 Mei 2017, by Tonton Taufik
Saat ini etnis Cina, makin berani saja, mereka makin terlihat kelakuannya, seperti yang dikatakan salah satu konglomerat etnis Cina, bahwa Indonesia hanya ayah ...
Moby Mart, Toko Swalayan Berjalan dengan Kecerdasan Buatan
25 Juli 2017, by Ghilman Azka Fauzan
Tampang.com - Tiongkok, kini memiliki toko swalayan canggih berbentuk bus dengan dilengkapi kecerdasan buatan. Bus tersebut berjalan perlahan di Jalan Anfu, ...
Kentut Bau? Ini Penyebabnya
19 April 2018, by Jenis Jaya Waruwu
Kentut adalah salah satu langkah alami tubuh dalam membuang limbah pada tubuh berupa gas. Menurut American College of Gastroenterology, rata-rata manusia ...
McLaren Automotive Targetkan Jadi Raja Mobil Sport Mewah Dunia
1 Juli 2017, by Rahmat Zaenudin
Tampang.com- Mobil mewah kelas dunia semakin diminati oleh konsumen dan pecinta otomotif, ini dibuktikan dengan meningkatnya penjualan salah satu produsen ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
hijab