Perjalanan berlanjut ke Kampung Nelayan Bahari Merauke. Di sana, beberapa perahu tampak sedang diperbaiki. Aroma laut dan kayu basah menyatu dalam suasana kerja keras para nelayan. Di sebuah gubuk sederhana, perhatian kami tertuju pada sekumpulan anak kecil yang sedang berkumpul. Kami berbagi buku dan pulpen kepada mereka. Kami berpesan agar mereka belajar dan bersekolah setinggi-tingginya, karena ilmu adalah bekal untuk mengubah nasib. Anak-anak itu tersenyum—dan dalam senyum mereka, tersimpan masa depan Merauke.
Dari kampung nelayan, kami menuju Kampung Payung, sebuah pemukiman di sekitar pantai. Di sini, kami berdialog dengan bapak-bapak dan ibu-ibu. Mereka bercerita tentang kehidupan sehari-hari, tentang kecintaan pada alam, dan tentang inisiatif mereka melakukan pembibitan mangrove secara swadaya. Dengan biaya sendiri, mereka menanam mangrove di pesisir sebagai upaya menjaga ekosistem pantai. Sebuah gerakan ekologis yang lahir dari kesadaran, bukan dari proyek.
Kami pun membeli 200 bibit mangrove siap tanam , dan kami menanam pohon saat itu bersama masyarakat. Penanaman itu bukan sekadar simbolik. Itu adalah pernyataan bahwa keadilan ekologis harus menjadi bagian dari perjuangan politik.
Namun, di balik semangat itu, tampak pula kenyataan yang tak bisa diabaikan. Rumah-rumah yang dihuni sebagian warga masih jauh dari kata layak. Aspirasi tentang pendidikan pun mengemuka. Ada sekolah yang sedang dipersiapkan menjadi Sekolah Rakyat, dan masyarakat berharap anak-anak mereka dapat belajar di sana. Di Kampung Payung, kami menyaksikan secara nyata bahwa isu keadilan ekologis, pendidikan, perumahan, dan lapangan kerja bukanlah konsep abstrak. Ia adalah kebutuhan konkret warga Merauke.