Oleh: Sahrin Hamid, Ketua Umum Gerakan Rakyat
Kami berangkat dari Jakarta pukul 22.00 WIB. Rabu, 11 Pebruari 2026. Perjalanan panjang itu membawa kami transit di Jayapura sebelum akhirnya mendarat di Merauke sekitar pukul 10.00 WIT. Begitu kaki menjejak tanah di ujung timur Indonesia, ada perasaan yang berbeda—sebuah kesadaran bahwa di sinilah salah satu penanda kedaulatan bangsa berdiri tegak.
Di Bandara Merauke, kami disambut hangat oleh Ketua DPW Gerakan Rakyat Papua Selatan, Bung Simon, bersama Sekretaris DPW, Bung Daldiri. Sambutan mereka sederhana namun penuh semangat persaudaraan. Dari bandara, kami langsung bergerak menuju Pasar Merauke—jantung denyut ekonomi rakyat kecil di kota ini.
Di pasar, mama-mama Papua menyambut dengan senyum dan semangat luar biasa. Kami berbelanja buah matoa, pepaya, lemon, kedondong, cabai, dan berbagai kebutuhan lainnya—tentu dari mama-mama yang berbeda, agar keberkahan itu tersebar merata. Interaksi itu bukan sekadar transaksi ekonomi, melainkan perjumpaan batin. Di tangan merekalah roda ekonomi keluarga berputar, dan dari ketekunan merekalah harapan tetap menyala.
Namun, di sudut lain pasar, kami menyaksikan sekelompok anak muda dan pace Papua yang tengah menyampaikan protes terkait pengelolaan parkir yang mereka nilai belum berkeadilan. Kami berdialog dengan ketua kelompok para tukang parkir dan pengangkut barang. Dari percakapan itu, kami melihat satu hal yang jelas: mereka ingin bekerja. Mereka tidak meminta belas kasihan—mereka meminta ruang dan keadilan. Semangat mereka besar, tetapi ruang pekerjaan terasa sempit. Di situ kami melihat tantangan nyata: bagaimana negara dan pemerintah daerah membuka lapangan kerja yang adil dan inklusif bagi putra-putri asli Papua.