"Ada yang teriak, ‘yang gendut pakai baju putih, awas intel.’ Saya pun panik, langsung menyalakan rokok. Lalu ada teriakan lain, ‘itu yang gendut pakai baju putih ngerokok, itu intel’," lanjutnya.
Massa yang berpakaian serba hitam kemudian mengepungnya dan mendesaknya untuk membuka isi ponselnya. Meskipun sudah menunjukkan ID card pers Kompas.com, beberapa orang tetap mencurigainya sebagai intelijen.
Beruntung, beberapa orang dalam kerumunan mengenali Faqih sebagai jurnalis dan membantunya keluar dari kepungan. Namun, saat ia berjalan menuju rumah makan Bancakan untuk menyelamatkan diri, ia kembali mengalami kekerasan.
"Bokong saya sempat ditendang 2–3 kali, baju ditarik-tarik, lalu kepala kiri saya dipukul dua kali. Ketika saya lari ke arah rumah makan, ada yang melempar botol dan mengenai kepala bagian belakang saya," ungkapnya.
Situasi semakin memburuk, dan akhirnya Faqih ditarik masuk ke dalam rumah makan oleh rekan-rekannya untuk menghindari lebih banyak kekerasan.
Kompas.com Kecam Kekerasan terhadap Jurnalis
Pemimpin Redaksi Kompas.com, Amir Sodikin, mengecam keras penganiayaan yang dialami Faqih saat menjalankan tugas jurnalistiknya.