Tampang.com | Sejumlah anggota Partai Demokrat mendesak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk membatalkan larangan perjalanan yang diusulkan terhadap 43 negara. Mereka mengecam kebijakan tersebut sebagai langkah diskriminatif yang berpotensi merugikan ekonomi dan keamanan nasional.
Sebelumnya, Trump telah menginstruksikan kabinetnya untuk menyusun daftar negara yang akan dilarang memasuki AS, dengan batas waktu penyusunan daftar jatuh pada Kamis mendatang. Namun, kebijakan ini menuai kritik tajam dari berbagai pihak, terutama dari anggota Demokrat yang menyatakan bahwa kebijakan tersebut dapat membahayakan posisi global AS dan melemahkan hubungan diplomatik dengan sekutu.
Surat Keberatan dari Demokrat
Lebih dari 30 anggota Demokrat, termasuk Yassamin Ansari dan Brad Schneider, menandatangani surat keberatan terhadap larangan perjalanan tersebut. Dalam surat yang dikirim ke Trump pada Rabu lalu, mereka menyatakan bahwa kebijakan tersebut ceroboh dan lebih banyak menimbulkan dampak negatif daripada manfaat.
"Tidak ada urgensi keamanan nasional yang membenarkan pelarangan massal terhadap warga dari begitu banyak negara," tulis mereka, dikutip dari The Independent (19/3/2025). Mereka menambahkan bahwa kewarganegaraan seseorang tidak memiliki korelasi langsung dengan ancaman terhadap keamanan nasional.
Yassamin Ansari, yang merupakan putri imigran asal Iran, mengungkapkan bahwa larangan perjalanan serupa pada 2017 telah menyebabkan banyak keluarga terpisah. "Beberapa tahun lalu, nenek saya, seorang warga negara AS, meninggal dunia tanpa pernah bertemu kembali dengan saudara perempuannya. Larangan perjalanan Trump saat itu kejam dan rasis. Kini, larangan baru ini semakin tidak masuk akal karena hanya akan merusak ekonomi dan keamanan nasional serta memberi amunisi bagi kelompok ekstremis," tegasnya.