Timur Tengah seringkali identik dengan kekayaan yang melimpah, dan sumber utama dari kemakmuran itu adalah satu komoditas: minyak bumi. Negara-negara seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait mendominasi pasar minyak global dengan cadangan yang luar biasa besar. Pertanyaannya, mengapa kawasan ini begitu diberkahi dengan "emas hitam" yang sangat berharga? Jawaban atas pertanyaan ini bukan sekadar keberuntungan geografis, melainkan gabungan dari kondisi geologis unik, sejarah pembentukan bumi, dan faktor-faktor alam yang terjadi jutaan tahun lalu.
Kondisi Geologis dan Iklim Purba yang Ideal
Kisah kekayaan minyak Timur Tengah dimulai jauh di masa lalu, tepatnya pada era Permian dan Mesozoik, sekitar 250 hingga 65 juta tahun yang lalu. Pada masa itu, kawasan yang kini kering dan berpasir ini adalah sebuah lautan dangkal yang luas, bagian dari Samudra Tethys. Lautan ini dipenuhi dengan kehidupan laut yang melimpah, mulai dari plankton, alga, hingga berbagai jenis hewan laut.
Saat makhluk-makhluk laut ini mati, bangkai mereka tenggelam ke dasar laut. Di lingkungan perairan dangkal yang hangat, proses dekomposisi terjadi dengan sangat lambat karena minimnya oksigen. Lapisan-lapisan sedimen dan lumpur menutupi sisa-sisa organik ini, menguburnya di bawah tekanan yang semakin besar dari waktu ke waktu. Material organik ini kemudian berubah menjadi kerogen, sebuah zat lilin yang merupakan prekursor minyak bumi.
Kondisi iklim purba yang hangat dan stabil di wilayah ini memungkinkan akumulasi material organik dalam jumlah besar secara terus-menerus selama jutaan tahun. Ini adalah salah satu kunci utama yang membedakan Timur Tengah dari wilayah lain; akumulasi material organik di sini sangat masif dan konsisten.