Faktor Pemicu Tidur Berjalan
Tidur berjalan tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dari beberapa pemicu, baik genetik maupun lingkungan.
1. Faktor Genetik dan Keturunan: Penelitian menunjukkan bahwa tidur berjalan seringkali menurun dalam keluarga. Jika salah satu atau kedua orang tua memiliki riwayat tidur berjalan, kemungkinan anak mereka juga mengalaminya akan jauh lebih tinggi. Para ilmuwan menduga ada gen tertentu yang berperan dalam memicu fenomena ini, meskipun gen spesifiknya masih terus diteliti. Ini menjelaskan mengapa tidur berjalan lebih sering terjadi pada anak-anak. Seiring bertambahnya usia, sistem saraf mereka menjadi lebih matang, dan kondisi ini biasanya akan hilang dengan sendirinya.
2. Kondisi Fisik dan Kesehatan: Berbagai kondisi fisik dan kesehatan bisa menjadi pemicu tidur berjalan. Beberapa di antaranya termasuk demam tinggi, kurang tidur kronis, dan stres berlebihan. Kurang tidur dapat mengganggu siklus tidur-bangun normal, membuat transisi antar fase tidur menjadi tidak stabil. Selain itu, kondisi medis seperti sleep apnea (gangguan tidur yang menyebabkan pernapasan terhenti sejenak), penyakit Parkinson, dan beberapa jenis migrain juga dikaitkan dengan peningkatan risiko tidur berjalan. Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti obat penenang dan obat tidur, juga bisa memicu somnambulisme sebagai efek samping.
3. Faktor Psikologis dan Lingkungan: Stres dan kecemasan adalah pemicu psikologis yang sangat umum. Pikiran yang tertekan atau emosi yang tidak stabil sebelum tidur bisa mengganggu tidur nyenyak, meningkatkan kemungkinan terjadinya tidur berjalan. Perubahan lingkungan tidur, seperti tidur di tempat baru, suara bising, atau cahaya terang, juga bisa memicu episode tidur berjalan. Selain itu, konsumsi alkohol dan kafein sebelum tidur juga dapat mengganggu fase tidur dalam, sehingga meningkatkan risiko seseorang mengalami tidur berjalan.