Lebaran sering kali identik dengan tradisi menggunakan wewangian untuk menyegarkan tubuh sebelum beribadah dan bersilaturahmi. Salah satu jenis wewangian yang memiliki sejarah panjang dan nilai tinggi adalah kayu gaharu, yang ternyata menjadi favorit Nabi Muhammad SAW. Namun, tahukah Anda bahwa gaharu bukan tanaman asli Arab? Justru, Indonesia menjadi salah satu sumber utama dari kayu bernilai tinggi ini.
Kayu Gaharu dalam Tradisi Islam
Dalam banyak riwayat, Nabi Muhammad SAW dikenal sering menggunakan parfum sebelum beribadah. Salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari menyebutkan bahwa Rasulullah menganjurkan umat Islam untuk memakai wewangian jika memilikinya:
"Sesungguhnya Allah mempunyai hak atas setiap Muslim untuk mandi setiap tujuh hari. Jika ia mempunyai wewangian, hendaklah dipergunakan." (HR Bukhari).
Tak hanya itu, dalam kitab Akhlaq an-Nabi wa Adabuhu karya Abu asy-Syaikh al-Ashbahani, disebutkan bahwa Aisyah RA mengungkapkan bahwa wewangian favorit Nabi adalah kayu gaharu atau ud (Agarwood). Aroma khas dari kayu ini memiliki nilai spiritual tinggi dan sering digunakan dalam berbagai ritual keagamaan di dunia Islam.
Tanaman Langka yang Bernilai Tinggi
Meskipun begitu digemari di Timur Tengah, kayu gaharu bukanlah tanaman asli wilayah tersebut. Pohon gaharu hanya tumbuh di beberapa negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan, termasuk Indonesia, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Malaysia, India, Bangladesh, Filipina, dan Papua Nugini.
Kayu ini menjadi sangat bernilai karena sifatnya yang langka dan sulit diperoleh. Pohon gaharu hanya menghasilkan resin beraroma khas jika terinfeksi jamur atau mikroba tertentu. Proses ini adalah reaksi alami dari pohon dalam melawan infeksi, yang pada akhirnya menciptakan aroma yang sangat khas dan bernilai tinggi. Namun, hanya sekitar 7-10% pohon gaharu yang mengalami infeksi ini secara alami, sehingga membuatnya semakin langka dan mahal.