Tutup Iklan
hijab
  
login Register
Solusi Polusi Plastik? Cintai Laut

Solusi Polusi Plastik? Cintai Laut

20 September 2017 | Dibaca : 412x | Penulis : Rindang Riyanti

Mengikuti semangat cinta lingkungan laut bisa menjadi kunci untuk mengurangi ancaman yang ditimbulkan oleh polusi plastik.

Jutaan ton partikel plastik terakumulasi di laut kita setiap tahun sebagai akibat dari perilaku manusia, dan sampah-sampah itu memiliki efek yang berpotensi merusak kehidupan laut.

Akademisi dari University of Plymouth dan University of Surrey mengidentifikasi contoh-contoh baru-baru ini dimana tekanan publik telah menyebabkan perubahan kebijakan, termasuk pajak pada kantong plastik sekali pakai dan larangan penggunaan mikroba dalam kosmetik.

Tapi sementara ini hal-hal tersebut tidak mengatasi akar penyebab atau efek abadi yang ditimbukan dari masalah tersebut. Laporan tersebut mengatakan bahwa perlu ada pendekatan yang lebih maju dan interdisipliner ke depan.

Dr Sabine Pahl mengatakan: "Kecintaan masyarakat terhadap pantai sudah jelas, jadi masuk akal bahwa mereka akan berperan dalam melestarikan masa depannya. Polusi plastik adalah masalah untuk semua orang. Kita perlu bekerja sama dalam berbagai disiplin ilmu dan sektor untuk membangun kekuatan manusia untuk memfasilitasi perubahan. "

Dr Kayleigh Wyles, Dosen Psikologi Lingkungan di Universitas Surrey, menambahkan: "Dari penelitian sebelumnya, kita mengetahui bahwa orang menghargai pentingnya laut dan melihat sampah laut sebagai masalah global. Namun, tantangannya adalah menghubungkan titik-titik tersebut. Banyak perilaku dan keputusan kita berkontribusi terhadap masalah ini (dan secara optimis terhadap solusi), namun pada titik waktu tertentu, kita sering tidak memikirkan bagaimana dampaknya terhadap lingkungan. Menggunakan ilmu perilaku untuk memahami bagaimana perilaku manusia akan membantu mendukung prakarsa berkelanjutan yang dapat melihat untuk membersihkan lingkungan kita. "

Dalam studi ini, mereka mengatakan bahwa polusi plastik laut menimbulkan tantangan serupa terhadap ancaman lingkungan lainnya.

Hal ini terkait dengan kurangnya urgensi untuk mengatasi masalah, namun akademisi mengatakan bahwa hal itu sebenarnya harus digunakan sebagai insentif untuk mendorong orang bertindak.

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Bagaimana Memori Jangka Panjang Disimpan Saat Tidur
23 Agustus 2017, by Rindang Riyanti
Pernahkah Anda mencoba mengingat sesuatu sebelum tidur dan kemudian terbangun dengan ingatan segar dalam pikiran Anda? Sementara kita menyerap begitu banyak ...
Sudah Dapat Gaji,  tetapi Masih Merasa Kurang? Intip 3 Terapi Mendapatkan Rezeki yang Berkah dan Melimpah ini!
10 September 2017, by Zeal
Setiap sholat kita mengucapkan doa Iftitah yang salah satu artinya : sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah. Begitupun segala ...
Konsumsi 5 Makanan Ini Dapat Memperlancar Produksi ASI
21 Juni 2018, by Retno Indriyani
Tampang.com - ASI (Air Susu Ibu) merupakan makanan pokok yang perlu diberikan secara eksklusif pada bayi berusia 0-6 bulan. Saat usia 0 - 6 bulan, bayi tidak ...
Wafatnya Sebagian Besar Jemaah Haji Indonesia di Tanah Suci Disebabkan Serangan Jantung
14 Agustus 2017, by Slesta
Tampang.com – Bulan ini memasuki bulan Haji, banyak orang yang melakukan ibadah haji di Tanah Suci Mekah. Pada hari ke -17, telah tercatat terdapat 20 ...
hp LG
2 Mei 2017, by Ayu
Sebenarnya yang dimaksud dengan HP Cina adalah merk-merk ponsel yang benar-benar produsen dan proses pengerjaannya dilakuakan di Tiongkok, Cina. Jadi, walaupun ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
hijab