Tutup Iklan
Tryout.id
  
login Register
Solusi Polusi Plastik? Cintai Laut

Solusi Polusi Plastik? Cintai Laut

20 September 2017 | Dibaca : 629x | Penulis : Rindang Riyanti

Mengikuti semangat cinta lingkungan laut bisa menjadi kunci untuk mengurangi ancaman yang ditimbulkan oleh polusi plastik.

Jutaan ton partikel plastik terakumulasi di laut kita setiap tahun sebagai akibat dari perilaku manusia, dan sampah-sampah itu memiliki efek yang berpotensi merusak kehidupan laut.

Akademisi dari University of Plymouth dan University of Surrey mengidentifikasi contoh-contoh baru-baru ini dimana tekanan publik telah menyebabkan perubahan kebijakan, termasuk pajak pada kantong plastik sekali pakai dan larangan penggunaan mikroba dalam kosmetik.

Tapi sementara ini hal-hal tersebut tidak mengatasi akar penyebab atau efek abadi yang ditimbukan dari masalah tersebut. Laporan tersebut mengatakan bahwa perlu ada pendekatan yang lebih maju dan interdisipliner ke depan.

Dr Sabine Pahl mengatakan: "Kecintaan masyarakat terhadap pantai sudah jelas, jadi masuk akal bahwa mereka akan berperan dalam melestarikan masa depannya. Polusi plastik adalah masalah untuk semua orang. Kita perlu bekerja sama dalam berbagai disiplin ilmu dan sektor untuk membangun kekuatan manusia untuk memfasilitasi perubahan. "

Dr Kayleigh Wyles, Dosen Psikologi Lingkungan di Universitas Surrey, menambahkan: "Dari penelitian sebelumnya, kita mengetahui bahwa orang menghargai pentingnya laut dan melihat sampah laut sebagai masalah global. Namun, tantangannya adalah menghubungkan titik-titik tersebut. Banyak perilaku dan keputusan kita berkontribusi terhadap masalah ini (dan secara optimis terhadap solusi), namun pada titik waktu tertentu, kita sering tidak memikirkan bagaimana dampaknya terhadap lingkungan. Menggunakan ilmu perilaku untuk memahami bagaimana perilaku manusia akan membantu mendukung prakarsa berkelanjutan yang dapat melihat untuk membersihkan lingkungan kita. "

Dalam studi ini, mereka mengatakan bahwa polusi plastik laut menimbulkan tantangan serupa terhadap ancaman lingkungan lainnya.

Hal ini terkait dengan kurangnya urgensi untuk mengatasi masalah, namun akademisi mengatakan bahwa hal itu sebenarnya harus digunakan sebagai insentif untuk mendorong orang bertindak.

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Layanan Gratis di Bandara Seokarno Hatta, Mau ??
2 September 2017, by Amalia Aisyah
PT. Angkasa Pura II merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan dan pengusahaan bandar udara di Indonesia. Mulai hari ini, 1 September 2017, PT. ...
Tingkat Hormon Rendah Terkait dengan Autisme Pada Anak Laki-laki
4 Mei 2018, by Slesta
Tingkat hormon yang sangat rendah yang disebut vasopresin, diketahui menyebabkan kemampuan sosial yang rendah pada monyet, kini telah dikaitkan dengan efek ...
Resmi Rilis Oppo A83 Mirip Fitur Face Unlock iPhone X
28 Desember 2017, by Jenis Jaya Waruwu
Perusahaan ponsel pintar terus melakukan berbagai inovasi untuk bersaing mendapatkan daya tarik pelanggan. Setelah iphone mengeluarkan produk terbaru mereka ...
atlantis gym
23 Mei 2017, by Tonton Taufik
Jakarta, 23 Mei 2017—Walau Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi memberi ancaman hukum berat bagi pelaku dan penyedia pornografi, tetapi ...
Segera Keluar Dari Zona Nyaman! Mengapa ?
1 November 2017, by Slesta
Tampang.com – Pada dasarnya setiap orang pasti selalu menyukai hal – hal yang membuat nyaman. Pada kondisi tersebut setiap orang akan merasa ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
hijab