Tutup Iklan
hijab
  
login Register
Solusi Polusi Plastik? Cintai Laut

Solusi Polusi Plastik? Cintai Laut

20 September 2017 | Dibaca : 355x | Penulis : Rindang Riyanti

Mengikuti semangat cinta lingkungan laut bisa menjadi kunci untuk mengurangi ancaman yang ditimbulkan oleh polusi plastik.

Jutaan ton partikel plastik terakumulasi di laut kita setiap tahun sebagai akibat dari perilaku manusia, dan sampah-sampah itu memiliki efek yang berpotensi merusak kehidupan laut.

Akademisi dari University of Plymouth dan University of Surrey mengidentifikasi contoh-contoh baru-baru ini dimana tekanan publik telah menyebabkan perubahan kebijakan, termasuk pajak pada kantong plastik sekali pakai dan larangan penggunaan mikroba dalam kosmetik.

Tapi sementara ini hal-hal tersebut tidak mengatasi akar penyebab atau efek abadi yang ditimbukan dari masalah tersebut. Laporan tersebut mengatakan bahwa perlu ada pendekatan yang lebih maju dan interdisipliner ke depan.

Dr Sabine Pahl mengatakan: "Kecintaan masyarakat terhadap pantai sudah jelas, jadi masuk akal bahwa mereka akan berperan dalam melestarikan masa depannya. Polusi plastik adalah masalah untuk semua orang. Kita perlu bekerja sama dalam berbagai disiplin ilmu dan sektor untuk membangun kekuatan manusia untuk memfasilitasi perubahan. "

Dr Kayleigh Wyles, Dosen Psikologi Lingkungan di Universitas Surrey, menambahkan: "Dari penelitian sebelumnya, kita mengetahui bahwa orang menghargai pentingnya laut dan melihat sampah laut sebagai masalah global. Namun, tantangannya adalah menghubungkan titik-titik tersebut. Banyak perilaku dan keputusan kita berkontribusi terhadap masalah ini (dan secara optimis terhadap solusi), namun pada titik waktu tertentu, kita sering tidak memikirkan bagaimana dampaknya terhadap lingkungan. Menggunakan ilmu perilaku untuk memahami bagaimana perilaku manusia akan membantu mendukung prakarsa berkelanjutan yang dapat melihat untuk membersihkan lingkungan kita. "

Dalam studi ini, mereka mengatakan bahwa polusi plastik laut menimbulkan tantangan serupa terhadap ancaman lingkungan lainnya.

Hal ini terkait dengan kurangnya urgensi untuk mengatasi masalah, namun akademisi mengatakan bahwa hal itu sebenarnya harus digunakan sebagai insentif untuk mendorong orang bertindak.

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Ingin Belajar Diluar Negeri? Inilah 3 Rekomendasi Negara Tujuan
28 Juni 2018, by Slesta
Tampang.com – Setelah menyelesaikan pendidikan di Strata 1, tidak jarang orang – orang memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang ...
Menjelajahi Dunia Bawah Laut di Epson Aqua Park Jepang
8 Agustus 2017, by Ghilman Azka Fauzan
Tampang.com - Salah satu objek wisata yang gak boleh ditinggal jika kalian ke Jepang adalah Epson Aqua Park yang berada di Tokyo. Disana, kalian dapat ...
7 Cara Ini Bisa Buang Lipatan Lemak di Perut Anda
9 Desember 2017, by Slesta
Tampang.com – Perut buncit selalu dikaitkan dengan kesuksesan seseorang. Katanya, semakin buncit perut maka semakin sukses lah dia. Apakah itu benar? ...
Butuh Waktu 3 Pekan Polisi Akhirnya Berhasil Ungkap Motif Pembunuhan Terhadap Grace Gabriella Bimusu
31 Mei 2018, by Jenis Jaya Waruwu
Seperti diberitakan beberapa waktu lalu terjadi pembunuhan sadis pada seorang anak perempuan bocah yang masih berusia 15 tahun bernama Grace Gabriela Bimusu di ...
pulau komodo
19 Juli 2017, by Retno Indriyani
Tampang.com - Indonesia memiliki banyak tempat indah nan eksotis yang dapat dijadikan tempat berlibur bagi semua kalangan masyarakat. Bahkan banyak turis ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
JasaReview