Tutup Iklan
hijab
  
login Register
Pemanasan Global, Konversi Habitat Mengurangi Keanekaragaman Hayati, Mendorong Keseragaman

Pemanasan Global, Konversi Habitat Mengurangi Keanekaragaman Hayati, Mendorong Keseragaman

19 Agustus 2017 | Dibaca : 1427x | Penulis : Slesta

Alam menjadi homogenisasi, kata periset di University of California, Davis, dalam sebuah penelitian baru.

Penelitian yang diterbitkan minggu ini di jurnal Global Change Biology, menunjukkan bahwa kombinasi perubahan iklim dan konversi habitat menghambat keanekaragaman hayati dan mendorong keseragaman.

Ketika tim peneliti mengamati campuran spesies tanaman dan burung di hutan Kosta Rika, mereka menemukan spesies tertentu cenderung berkembang di bagian hutan yang lebih lapang, sementara yang lain lebih menyukai bagian yang lebih kering. Di antara areal terbuka, di mana hutan telah dikonversi menjadi lahan pertanian, para periset menemukan spesies ini dengan preferensi untuk tempat kering dimana mahakuasa - berkembang baik di ladang basah maupun kering.

"Di Amerika Tengah dan Selatan, kita melihat area yang luas dikonversi dari hutan asli menjadi pertanian, dan kekeringan menjadi lebih sering," kata penulis studi utama Daniel Karp, asisten profesor biologi konservasi di UC Davis, dalam sebuah rilis berita. "Kedua tekanan global ini mendukung spesies yang sama dan mengancam spesies yang sama. Ini berarti kita mungkin kehilangan keanekaragaman hayati lebih cepat dari yang kita duga saat kita mempelajari perubahan iklim dan konversi habitat secara individual."

Karp dan rekan-rekannya menemukan konversi hutan menjadi lahan pertanian terbukti sangat berbahaya bagi beragam spesies burung tropis, termasuk tanagers, manakins dan woodcreepers. Sementara burung hitam, burung merpati dan burung pipit beradaptasi dengan mudah ke lapangan terbuka.

"Sekarang kita tahu ini, kita tahu apa yang harus dipusatkan dari perspektif konservasi," kata Karp.

Periset berharap dapat mendorong pelestarian kawasan hutan yang ditargetkan, dan meyakinkan petani yang bekerja di areal basah tradisional untuk melestarikan sebagian kecil hutan di lahan mereka.

UPI.com

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Jenderal Gatot Nurmantyo Buka Bersama dan Bagikan 1000 Bingkisan untuk Anak Yatim
4 Juni 2017, by Rahmat Zaenudin
Tampang.com- Dalam rangka safari Ramadhan Panglima TNI,  Jenderal Gatot Nurmantyo, melangsungkan acara buka puasa bersama dengan masyarakat dan anak yatim ...
Ini Dia Zodiak Cewek Paling Genit. Kamu Termasuk Nggak?
1 September 2017, by Myanisha Zurhijaya
Tidak dapat disanggah bahwa zodiak seseorang berpengaruh terhadap sifat yang ia miliki. Memang tidak semua. Namun kebanyakan orang memiliki sifat-sifat sesuai ...
Dampak Buruk Jika Tubuh Kekurangan Yodium
30 Juni 2018, by oteli w
Dampak Buruk Jika Tubuh Kekurangan Yodium Tubuh kita mempunyai kebutuhan yang bermacam-macam. Berbagai zat harus diserap oleh tubuh kita agar tercipta ...
Mengharukan, Seorang Ibu 98 Tahun Rela Tinggal di Rumah Jompo Demi Bersama Sang Anak yang Berusia 80 Tahun
7 November 2017, by Rachmiamy
Ada peribahasa yang mengatakan Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Ya, Kasih sayang seorang ibu kepada anaknya memang tak pernah lekang oleh ...
Perbandingan Kinerja Siswa dalam Computer Based Test dan Pencil-Paper Based Test
18 Agustus 2017, by Rindang Riyanti
Berdasarkan sebuah penelitian terhadap lebih dari 30.000 siswa sekolah dasar, menengah, dan tinggi yang dilakukan pada musim dingin 2015, para peneliti ...
Berita Terpopuler
Polling
Permadi Arya dibayar APBN atau Bukan?
#Tagar
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
JasaReview