Tutup Iklan
MagicBra
  
login Register
Benarkah Mainan Menyebabkan Anak-Anak Menjadi Kurang Kreatif?

Benarkah Mainan Menyebabkan Anak-Anak Menjadi Kurang Kreatif?

12 Juli 2017 | Dibaca : 83x | Penulis : Ghilman Azka Fauzan

Tampang.com - Mainan kerap kali dikaitkan dengan masa anak-anak. Seringkali kita jumpai anak-anak yang rewel meminta mainan ke orangtuanya.

Namun, keyakinan ini ternyata berbeda dengan Maggie Dent. Maggie Dent adalah pakar pengasuhan anak. Dia meyakini dengan menjauhkan mainan dapat menjadi praktek menyehatkan bagi anak.

Dilansir dari australiaplus, menurutnya, pada 20 tahun silam para peneliti Jerman menguji teori ini dengan menjauhkan selama 3 bulan setiap mainan di taman kanak-kanak.

"Alasan sebenarnya untuk kajian ini adalah untuk mencari tahu pada bagaimana kita mengembangkan ketergantungan pada hal-hal atau benda-benda," papar Maggie Dent.

Pada saat mainan disingkirkan, awalnya anak-anak tampak bingung dan bosan. Namun, lambat laun mainan tersebut diganti mereka dengan imajinasi mereka

"Keesokan harinya anak-anak mengambil permadani dan meletakan gulungan permadani itu diatas kursi sehingga perabotan itu menjadi permainan mereka," tambah Maggie Dent.

"Kebosanan adalah sesuatu yang sangat tidak nyaman bagi anak-anak, jadi jika kita tidak meletakkan sesuatu di tangan mereka atau sesegera mungkin menciptakan sesuatu untuk mereka, mereka akan benar-benar termotivasi untuk memperbaiki kebosanan tersebut dengan cara menciptakan sesuatu untuk diri mereka sendiri," pungkasnya.

Maggi Dent juga mengatakan bahwa dirinya sering mendapatkan keluhan dari orangtua karena anaknya memiliki setumpuk mainan yang sudah tidak dimainkan.

Untuk proses ini, dia tidak mendorong untuk segera menyingkirkan semua mainannya, tapi dia menyarankan orang tua untuk menyingkirkan 2/3 dari mainan itu dan secara teratur mengubah susunan penyimpanan mainan-mainan itu.

"Usahakan seluruh sisa mainan anak disimpan garasi, gantilah mainan mereka setiap 3 bulan, anda tidak perlu membeli mainan yang baru lagi karena mereka sudah akan lupa kalau mereka punya mainan itu dan mereka akan merasa seluruh mainan mereka baru kembali," sambungnya.

Maggie Dent juga menyarankan agar orang tua meminta anak mereka untuk menyortir beberapa mainan untuk disumbangkan, ajarkan anak-anak untuk berbagi dan mengapresiasi apa yang mereka miliki.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Pengembangan Baterai Isi Ulang dari Molekul Organik
18 September 2017, by Rindang Riyanti
Sebuah tim peneliti dari National University of Singapore (NUS) telah berhasil merancang sebuah bahan organik baru dengan konduktivitas listrik dan kemampuan ...
10 Hal Ini Tak Mungkin Kamu Temukan pada Pria Baik
14 September 2017, by Ghilman Azka Fauzan
Tampang.com - Dalam menjalin suatu hubungan asmara, wanita mana yang tak mau mendapatkan pria yang baik untuk dirinya. Pria dianggap baik, jika mereka ...
berpendidikan
13 Mei 2017, by Fikri Faturrahman
Jika kita mendengar kata “pendidikan” seringkali paradigma yang muncul adalah ruang-ruang kelas, seperangkat bangku-meja, buku-buku, guru, dan ...
Indonesia Mengirim Menlu Untuk Penyelesaian Masalah di Myanmar
5 September 2017, by Rahmat Zaenudin
Tampang.com- Tragedy yang menimpa muslim Rohingya di Myanmar,menuai akti demo, sejumlah massa yang tergabung dalam sabahat Muslin Rohingya meakukan aksi di ...
5 Negara Ini Menjadi Negara Terdermawan, Indonesia Peringkat 2
5 September 2017, by Ghilman Azka Fauzan
Tampang.com - Memberi kepada sesama merupakan suatu hal yang diyakini menjadi hal yang baik untuk dilakukan. Bahkan, semua agama pun menganjurkan menolong ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
Hijab