"Masa sih lima tahun tidak tuntas-tuntas kasus Century? Karena itu pemerintahan Jokowi harus mengubah gaya seperti itu," katanya.
Kalau Kristiadi membandingkannya dari sisi itu, maka pertanyaannya bagaimana dengan penuntasan kasus raperda reklamasi?
Bukankah 5 April 2016 KPK mengatakan ada tersangka baru dalam kasus yang menyeret Sanusi dan Ariesman Widjaja, kolega sekaligus sahabat dekat Ahok. Kemudian KPK menegaskan lagi pernyataannya itu pada 25 April 2016.
Toh, sudah lebih dari 2 tahun, belum ada satu pun nama tersangka baru yang disebut KPK.
Pembandingan SBY-Jokowi dalam penuntasan kasus korupsi yang dilepaskan Kristiadi tersebut pastinya akan dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai amunisi untuk menyerang Jokowi. Akan banyak opini yang dibangun lewat pola pikir pengamat beken ini. Tunggu saja!
Tetapi, opini para pakar tetap akan menjadi alat propaganda pemenangan dalam pemilu. Opini pakar ini akan mendukung strategi kampanye lainnya, seperti kampanye tatap muka, iklan media, iklan luar ruangan, dan tentu saja rilis survei.
Jika tidak dikonter, opini pakar akan diterima sebagai sebuah kebenaran dan berfungsi sebagai vote getter.
Kekuatan dari para pakar yang mampu membangun opini inilah yang harus dilawan oleh para calon, terutama bagi yang kurang mendapat dukungan dari lingkungan kampus.