Selain itu, Kristiadi pun tidak melihat jika mesin parpol penggusung Ahok tidak sepenuhnya solid. Hal ini bisa dilihat dari sejumlah elit parpol yang memilih mendukung pasangan AHY-Sylviana atau Anies-Sandi.
Soal prediksi kemenangan Ahok pada Pilgub DKI 2017 sudah menggemuruh sejak pertengahan 2015. Dan, setelah CSIS merilis hasil surveinya, hampir semua media arus utama dan pengamat mencium aroma kemenangan Ahok. Kata mereka, Ahok bakal menang mudah
Padahal, dari rilis survei yang sama didapat kesimpulan yang berbeda, seperti yang ditulis dalam “http://www.kompasiana.com/gatotswandito/siapa-bilang-ahok-bakal-menang-mudah-dalam-pilgub-dki-2017-nanti_56a83a45b09273590f803808” yang diposting di Kompasiana pada Januari 2016.
Melesetnya penciuman pakar dengan sederet gelar akademik ini bukan sesuatu yang aneh lagi. Jelang Pilgub DKI 2017, misalnya, Profesor Hamdi Muluk, pakar psikologi politik asal UI yang sekaligus Ketua Lembaga Psikologi Politik Universitas Indonesia Hamdi Muluk, mengatakan bahwa PDIP sedang dilema.
"Kalau ngotot lawan Ahok, habis PDIP," kata Hamdi di Menteng, Jakarta, Senin, 1 Agustus 2016. https://nasional.tempo.co/read/news/2016/08/02/078792445/pilgub-dki-hamdi-muluk-jika-ngotot-lawan-ahok-habis-pdip#P6zm1EOM4v7Y1BzU.99.
Opini Hamdi tersebut dibantah lewat artikel ini http://www.kompasiana.com/gatotswandito/tidak-dukung-ahok-pdip-habis_57a88ab88f7a61e31be8980a
Faktanya, meski telah mendukung Ahok, PDIP keok di sejumlah pilkada yang digelar serentak pada 2017. Artinye, pendapat pakar pun belum tentu benar. Atau setidaknya lebih benar dari orang awam.
Lucunya, Kristiadi membandingkan pencapaian Jokowi dengan SBY dalam penuntasan kasus korupsi.