Lebih jauh, gerakan ini juga diharapkan menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia yang memiliki persoalan serupa. Jika berhasil, model aksi serentak ini bisa direplikasi di berbagai wilayah pesisir nasional untuk menanggulangi masalah sampah laut yang kian kompleks.
Dari sisi dampak sosial, kegiatan ini diyakini mampu memperkuat kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Dengan turun langsung membersihkan pantai dan laut, masyarakat akan merasakan secara nyata besarnya masalah sampah laut. Pengalaman tersebut diharapkan memicu perubahan gaya hidup menjadi lebih ramah lingkungan.
Pemprov menargetkan gerakan ini tidak hanya berlangsung satu kali, melainkan menjadi agenda rutin dan berkelanjutan. Konsistensi pelaksanaan menjadi kunci agar upaya pengendalian sampah laut benar-benar memberikan hasil nyata dalam jangka panjang. Pemerintah juga akan melakukan evaluasi berkala untuk menilai efektivitas program serta menentukan langkah perbaikan ke depan.
Melalui gerakan besar yang dimulai 1 Maret 2026 ini, Pemprov ingin menegaskan bahwa persoalan sampah laut adalah tanggung jawab bersama. Dengan kolaborasi lintas sektor dan kesadaran masyarakat yang terus ditingkatkan, diharapkan Bali dapat mempertahankan reputasinya sebagai destinasi wisata yang bersih, indah, dan berkelanjutan.