Sistem ini memicu mentalitas "berjuang untuk bertahan hidup", di mana setiap nilai, setiap jam belajar tambahan, dan setiap prestasi di luar sekolah sangat berarti. Orang tua merasa harus mendorong anak-anak mereka sekeras mungkin agar tidak tertinggal. Mereka berinvestasi besar pada les tambahan, kelas khusus, dan bimbingan belajar, bahkan sejak usia dini. Disiplin keras dianggap sebagai satu-satunya cara untuk memastikan anak-anak mereka bisa bersaing dan sukses di tengah lautan pesaing yang tak terhitung jumlahnya.
Pandangan tentang Kecerdasan dan Usaha
Di banyak budaya Barat, kecerdasan seringkali dianggap sebagai sesuatu yang bawaan sejak lahir. Namun, dalam budaya Tionghoa, ada keyakinan kuat bahwa usaha (usaha) dan ketekunan jauh lebih penting daripada bakat alami. Ada pepatah Tiongkok kuno yang berbunyi, "Sebuah mutiara tidak akan bersinar sampai dipoles." Pepatah ini menekankan bahwa potensi hanya bisa terwujud melalui kerja keras dan disiplin yang tak henti-hentinya.
Keyakinan ini memengaruhi cara orang tua Tionghoa mendidik anak-anak mereka. Ketika seorang anak gagal, mereka cenderung tidak menyalahkannya pada kurangnya bakat, tetapi pada kurangnya usaha. Hal ini memotivasi orang tua untuk terus mendorong anak-anak mereka untuk mencoba lebih keras dan tidak menyerah. Pola pikir ini juga membentuk karakter yang tahan banting dan gigih, yang merupakan aset berharga di dunia yang kompetitif.
Peran Sejarah dan Perkembangan Ekonomi
Secara historis, Tiongkok telah melewati masa-masa sulit, termasuk perang, kelaparan, dan pergolakan sosial. Pengalaman ini membentuk mentalitas yang menghargai ketekunan, pengorbanan, dan kerja keras sebagai jalan menuju kemakmuran. Perkembangan ekonomi Tiongkok yang pesat dalam beberapa dekade terakhir juga didorong oleh mentalitas ini. Generasi yang lebih tua melihat hasil dari disiplin dan kerja keras dalam bentuk kemajuan ekonomi yang luar biasa.