Setelah menyantap hidangan makan malam yang lezat dan berlimpah, sebagian orang mungkin mengalami hal yang tidak menyenangkan saat tidur, yaitu mimpi buruk. Kondisi ini sering dianggap mitos belaka, namun kenyataannya ada penjelasan ilmiah di baliknya. Hubungan antara makanan yang kita konsumsi sebelum tidur dan kualitas mimpi memang saling berkaitan. Bukan sekadar kebetulan, ada beberapa proses biologis yang terjadi di dalam tubuh yang bisa memicu gangguan tidur dan mimpi yang menakutkan.
Sistem Pencernaan dan Peningkatan Metabolisme
Saat kita mengonsumsi makanan berat, sistem pencernaan dipaksa bekerja ekstra keras. Tubuh mengerahkan energi dan aliran darah lebih banyak ke area perut untuk mencerna makanan tersebut. Proses ini meningkatkan metabolisme tubuh. Peningkatan metabolisme ini bisa memicu aktivitas otak yang lebih tinggi, bahkan saat kita sudah terlelap.
Normalnya, otak akan memasuki fase istirahat dan memproduksi gelombang otak yang lebih lambat saat tidur. Namun, dengan adanya lonjakan aktivitas metabolisme, otak cenderung tetap aktif dan waspada. Kondisi ini membuat kita sulit mencapai fase tidur nyenyak (deep sleep) dan lebih sering berada di fase tidur REM (Rapid Eye Movement).
Fase REM adalah tahap di mana sebagian besar mimpi terjadi. Karena otak kita bekerja lebih keras, mimpi yang muncul di fase REM ini bisa jadi lebih intens, acak, dan tidak terduga. Otak mencoba memproses berbagai stimulus dari aktivitas internal tubuh, yang dapat diterjemahkan menjadi alur cerita mimpi yang aneh atau bahkan menakutkan.