Lebih jauh, Maya menyoroti tantangan kultural yang masih melekat di masyarakat. Masih banyak orang tua yang menganggap anak gemuk itu lucu dan sehat, padahal justru berisiko tinggi mengalami obesitas sejak dini. Pola pikir ini membuat upaya pencegahan obesitas menjadi semakin sulit. “Mindset seperti itu yang harus kita ubah. Anak gemuk bukan berarti sehat, malah bisa membawa masalah di kemudian hari,” jelasnya.
Selain faktor budaya, tren gaya hidup instan juga berperan besar. Maraknya peredaran obat-obatan penurun berat badan tanpa izin edar maupun kandungan jelas menandakan bahwa banyak masyarakat yang ingin cepat langsing tanpa memahami risikonya. Maya mengingatkan, cara seperti ini justru berbahaya. Obesitas, kata dia, seharusnya ditangani melalui pola makan seimbang, olahraga, serta pendekatan medis yang tepat bukan dengan mengonsumsi obat instan yang tidak terjamin keamanannya.
Sebagai perbandingan, Maya menyebut negara-negara seperti Jepang dan Singapura yang dikenal disiplin dalam menjaga pola makan. Di sana, prinsip yang berlaku adalah “makan secukupnya, bukan sampai kenyang”, sehingga masyarakat terbiasa membatasi porsi sejak dini. Prinsip sederhana ini terbukti efektif menekan angka obesitas di kalangan penduduk mereka.