Penumpukan informasi negatif ini dapat mematikan respons empati kita. Mekanisme pertahanan diri akan mengambil alih, dan kita mulai membangun benteng psikologis. Kita mungkin mulai merasa kebal terhadap berita tragis, atau bahkan menganggapnya sebagai hal biasa. Akibatnya, kita menjadi kurang responsif, tidak lagi merasa tergerak untuk membantu, dan pada akhirnya, merasa bersalah karena tidak lagi peduli seperti dulu. Ini adalah ironi dari altruism fatigue: keinginan untuk membantu yang begitu besar pada awalnya justru bisa berujung pada ketidakmampuan untuk membantu sama sekali.
Peran Media Digital dalam Memperburuk Kondisi
Di era media sosial, algoritma dan feed yang konstan memainkan peran besar dalam memperburuk altruism fatigue. Platform digital terus-menerus menyajikan konten yang memicu emosi, termasuk berita-berita tragis atau kampanye penggalangan dana yang mendesak. Sering kali, konten-konten ini ditampilkan dengan visual yang sangat kuat dan narasi yang emosional untuk memicu respons cepat dari pengguna.
Paparan yang berlebihan dan tanpa henti ini, tanpa ada jeda untuk memproses emosi, bisa membanjiri kita. Berbeda dengan koran atau berita televisi di masa lalu yang disajikan dalam durasi terbatas, media sosial membuat kita bisa terus-menerus terpapar penderitaan tanpa henti. Setiap kali membuka gawai, ada lagi kisah tragis yang menunggu. Kondisi ini membuat kita sulit untuk menjauh dan memulihkan diri, karena dunia digital terus-menerus mengingatkan kita tentang penderitaan yang ada.
Cara Mengelola dan Mengatasinya
Mengatasi altruism fatigue bukan berarti menjadi apatis, melainkan tentang mengelola empati kita secara bijaksana. Ini adalah tentang belajar untuk berempati tanpa membiarkan diri terbakar habis. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah: