“Tidak semua daerah memiliki akses yang sama terhadap sumber protein seperti daging ayam atau sapi. Namun, banyak daerah memiliki sumber daya lokal yang kaya protein, seperti belalang di Yogyakarta atau ulat sagu di Papua. Ini adalah bentuk optimalisasi potensi lokal yang bisa meningkatkan asupan gizi masyarakat,” tambah Dadan.
Belalang dan ulat sagu dikenal sebagai sumber protein alternatif yang kaya akan nutrisi. Belalang, misalnya, mengandung protein tinggi, asam amino esensial, serta rendah lemak. Ulat sagu, yang banyak dikonsumsi di wilayah timur Indonesia, juga kaya protein, vitamin, dan mineral penting seperti zat besi dan zinc.
Bahkan, organisasi internasional seperti FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa) telah mengakui manfaat konsumsi serangga sebagai solusi pangan masa depan. Selain bergizi, serangga juga lebih ramah lingkungan dibandingkan sumber protein konvensional seperti daging sapi.
Program MBG merupakan inisiatif pemerintah untuk menyediakan makanan bergizi secara gratis kepada masyarakat yang membutuhkan, terutama anak-anak sekolah di wilayah rentan. Dengan mengakomodasi bahan pangan lokal, diharapkan program ini dapat berjalan lebih efektif dan efisien.
Dadan menegaskan bahwa penerapan menu berbasis lokal tidak hanya menyesuaikan selera masyarakat, tetapi juga membantu mengurangi ketergantungan pada bahan pangan impor. “Ketika kita menggunakan bahan lokal, biaya distribusi dan produksi akan jauh lebih hemat. Selain itu, ini juga mendorong keberlanjutan ekonomi lokal,” jelasnya.