Namun, usulan ini tidak lepas dari tantangan. Salah satunya adalah bagaimana mengedukasi masyarakat tentang pentingnya diversifikasi pangan, terutama di daerah yang belum terbiasa mengonsumsi serangga. Selain itu, standar kebersihan dan pengolahan bahan pangan lokal seperti belalang dan ulat sagu juga perlu dipastikan agar aman dikonsumsi.
“Kami sedang merancang panduan dan pelatihan bagi daerah yang ingin mengintegrasikan bahan pangan lokal ke dalam program MBG. Tujuannya agar setiap menu tetap memenuhi standar gizi dan keamanan pangan,” kata Dadan.
Dengan memanfaatkan potensi lokal seperti belalang dan ulat sagu, BGN berharap program MBG tidak hanya meningkatkan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi cerminan kekayaan budaya dan keragaman pangan Indonesia. Langkah ini menjadi bukti bahwa solusi gizi tidak selalu mahal, tetapi bisa dimulai dari sumber daya yang ada di sekitar kita.