Namun, faktor antropogenik lah yang menjadi penyebab utama dari masalah ini. Beban yang dihasilkan oleh infrastruktur di atas tanah lunak dapat menyebabkan penurunan tanah hingga sebesar 1 sentimeter setiap tahunnya. Lebih parah lagi, eksploitasi air tanah yang berlebihan, yang banyak dilakukan oleh penduduk setempat, dapat menyebabkan laju penurunan hingga 7-8 sentimeter per tahun. Ini jelas menunjukkan bahwa aktivitas manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung, memiliki dampak yang signifikan terhadap perubahan muka tanah di kawasan tersebut.
Selanjutnya, Eko juga menyoroti dampak perubahan iklim sebagai faktor penting dalam perubahan geografi wilayah pesisir. Kenaikan permukaan air laut yang diakibatkan oleh perubahan iklim dapat menghasilkan perubahan tata ruang yang lebih luas, termasuk potensi kembalinya Selat Muria. Menurut perkiraan, jika kondisi ini terus berlanjut, ada kemungkinan wilayah yang saat ini merupakan daratan bisa kembali terendam air di masa depan.
Eko juga menegaskan bahwa banjir yang terjadi saat ini bukan merupakan penyebab utama munculnya kembali Selat Muria. Ia menjelaskan, "Banjir justru akan mengisi sedimentasi di daerah selat tersebut. Dari Muria, dari selatan Demak, selatan Semarang, semua sungai-sungainya kan bermuara di daerah pantura." Dengan kata lain, aliran sungai akan membawa material dan barang-barang yang dapat membentuk sedimentasi, tetapi tidak akan berfungsi untuk menciptakan kembali selat tersebut.