Tutup Iklan
JasaReview
  
login Register
lemper ayam

Woowwww Effect Gaya Ahok

27 April 2017 | Dibaca : 1665x | Penulis : Tonton Taufik

Oleh: Iswandi Syahputra

Jadi begini...
Setelah saya menulis analisis tentang Pesta Kembang di Balai Kota,  dalam bentuk opini pendek sejumlah media online meminta ijin saya agar artikel itu dimuat. Saya persilahkan dengan satu alasan, cukup sudah rakyat dibohongi dengan permainan 'Woowwww Effect' ini. Masih ingat kasus: 

a). 1 juta KTP.
b). Warga Antri di Rumah Lembang.
c). Sungai Jernih di Jakarta.
d). Dll.

Polanya hampir sama dengan jualan lemper lontong isi daging ayam: 

Lontongnya lebih tebal dan besar, tapi isinya cuma secuil kulit ayam yang dicincang. Yang penting orang satu pasar berkoar-koar, "Lemper Ayam, Lemper Ayam, Lemper Ayam..." Apakah ini bohong? Jelas tidak, karena faktanya memang ada lemper berisi ayam (walaupun cuma kulitnya).  

Saya menyebutnya dengan manipulasi realitas. Saya kembali pada gagasan Jean Baudrillard. Model seperti ini merupakan tahap pertama dari hiper-realitas. Baudrillard menyebutnya;
It is the reflection of a basic reality (Citra adalah cermin dasar realitas). Kehadiran 'daging ayam' cukup direpresentasikan melalaui secuil kulit ayam dalam lemper yang tebal dan besar.

Jika pedagang terus berkoar, "Lemper ayam, Lemper ayam..." maka orang akan percaya pedagang lagi jualan Lemper berisi Daging Ayam. Tahap kedua ini disebut Baudrillard sebagai It is masks and perverts a basic reality (Citra menyembunyikan dan memberi gambar yang salah akan realitas). 

Jika tidak dicegah, orang-orang yang berada di luar pasar yang mendengar pedagang berkoar "Lemper ayam, Lemper ayam..." akan ngomong pada isteri, tetangga dan siapa saja bahwa di pasar ada orang jualan "Lemper ayam...". Pada tahap ini, orang banyak mulai percaya bahwa Lemper Ayam merupakan makanan populer yang dijual di pasar. 

Ini merupakan tahap ketiga yang disebut Baudrillard sebagai It is masks the absence of a basic reality (citra menutupi/menghapus dasar realitas). Tahap inilah yang saya sebut manipulasi realitas. Simpelnya, ini tidak lebih dari tipuan realitas. Jadi ini seperti sulap, cuma game tentang realitas. Memang perlu kecerdasan untuk memainkannya dan kecerdasan pula untuk memahami triknya...

Untuk membuktikan asumsi tersebut saya menghubungi teman baik saya seorang jurnalis untuk menginvestigasinya. Hasilnya...

Pendukung Paslon 2 memang sudah siap menang dengan memesan ribuan karangan bunga, memesan tempat perayaan dan mendisain pesta kemenangan dengan tujuan menuai Wooowww effect Dugaan saya, Ahok memang lagi dipersiapkan untuk hal yang lebih besar makanya dari sekarang harus tetap dijaga agar selalu terlihat besar dan mendapat dukungan luas.

Karena itu karangan bunga terlanjur dipesan sebagai ucapan Selamat atas Terpilihnya Ahok sebagai Gubernur DKI padahal Ahok kalah, sementara pesanan tidak bisa dicancel, akhirnya dialihkan sebagai ucapan terima kasih pada Ahok.

Mungkin saja satu atau dua dari papan bunga itu murni dari warga yang bersimpati pada Ahok, satu atau dua karangan bunga inilah yang mirip kulit ayam dalam lemper yang tebal tadi.

Seperti pada Pilkada 2012 dan Pilpres 2014, saya memilih diam usai Pemilu karena saya fikir permainan sudah usai. Kalah atau menang itu sudah ketetapan. Tapi Pilkada DKI 2017 memang agak beda. Mengapa perlu direspon dan dikritisi? Karena DKI Jakarta adalah Ibu Kota Indonesia, Ibu Kota negara yang saya cintai. Saya berhak berpendapat terhadap pemimpin Ibu Kota Negara saya. Selain itu, pola-pola kampanye impresif yang dilakukan perlu diimbangi dengan nalar kritis agar publik bersih dari intervensi sehalus apapun untuk menghirup sebebas-bebasnya udara demokrasi.

Saya berkepentingan merawat nalar kritis dan akal sehat publik demi demokrasi yang bermartabat. Cara-cara seperti ini kendati sah dan tidak dilarang, tapi tidak sehat bagi demokrasi dan masa depan solidaritas kita sebagai bangsa. Kalau kalah, ya kalah saja. Terima kemenangan lawan. Jika ada yang keberatan, ajukan sesuai mekanisme. Foke dan Prabowo dan pendukung mereka bisa dijadikan contoh betapa kekalahan itu pahit tapi harus diterima dengan lapang demi persatuan dan kesatuan bangsa. Selanjutnya ayo kerja, kerja, kerja....

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

128 Negera yang Tak Akui Status Yerusalem, Trump Anggap Sebagai Musuh AS
1 Februari 2018, by Jenis Jaya Waruwu
Seperti diketahui beberapa waktu lalu tepatnya pada 6 Desember 2017 keputusan Donald Trump menggegerkan dunia dengan memindahkan kedutaan Amerika Serikat ke ...
Fadli Zon : Tidak ada yang Kebal Hukum di Indonesia, Sekalipun Anak Presiden
6 Juli 2017, by Rahmat Zaenudin
Tampang.com- Kaesang Pangarep akan segera diperiksa pihak kepolisian karena dilaporkan telah mengunggah Video yang dianggap sebagai ujaran kebencian. Video ...
Hasil Penelitian:Di Masa Depan, Bayi yang Lahir Mampu Miliki Kecerdasan Tinggi
30 Juli 2017, by Ghilman Azka Fauzan
Tampang.com - Sebuah perusahaan asal Tiongkok mengklaim bahwa manusia akan dapat memilih calon bayi yang memiliki kecerdasan tinggi dalam waktu dekat. Para ...
Tas Seminar yang Trendy dan Kekinian
13 Juli 2019, by Admin
Salah satu kegiatan yang merupakan kegiatan bergengsi adalah seminar. Yang biasanya diselenggarakan oleh instansi formal maupun instansi informal. Adapaun ...
Wireless Charging akan Mengatasi Masalah Utama Kendaraan Listrik
1 Juli 2017, by Rio Nur Arifin
Profesor Shanhui Fan (kiri) dan mahasiswa pascasarjana Sid Assawaworrarit telah mengembangkan sebuah alat yang dapat secara wireless mengisi benda bergerak ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
hijab