Tutup Iklan
hijab
  
login Register
U.N., Myanmar Menandatangani Perjanjian untuk Mengembalikan Pengungsi Rohingya

U.N., Myanmar Menandatangani Perjanjian untuk Mengembalikan Pengungsi Rohingya

7 Juni 2018 | Dibaca : 368x | Penulis : Slesta

Myanmar dan PBB menandatangani perjanjian Rabu untuk mulai memulangkan Muslim Rohingya yang melarikan diri dari negara itu selama tindakan keras pemerintah.

Memorandum of understanding yang ditandatangani di Yangon menyerukan agar "sukarela, aman, bermartabat dan berkelanjutan" mengembalikan sebagian dari 700.000 Rohingya yang sekarang tinggal di seberang perbatasan di kamp pengungsi Bangladesh.

Dua kondisi yang paling penting untuk keberhasilan perjanjian ini adalah hak kewarganegaraan bagi Rohingya, yang tidak pernah dianggap sebagai warga negara Myanmar, dan mengakhiri kekerasan, kata koordinator kemanusiaan Knuth Ostby.

"Apa yang membuatnya begitu istimewa adalah besarnya tantangan yang dihadapi orang-orang yang hidup dalam kondisi yang mustahil di sisi lain [di Bangladesh], dan ini adalah pembukaan bagi kami untuk mulai melakukan sesuatu tentang hal itu," kata Ostby.

Sementara timeline untuk kembalinya pengungsi ke negara bagian Rakhine Myanmar bukan bagian dari perjanjian, Ostby menambahkan misi akan dimulai "segera." Perjanjian itu juga tidak membahas jalan menuju kewarganegaraan di Myanmar yang sebagian besar beragama Buddha bagi minoritas Rohingya.

Suatu tindakan keras 2017 oleh polisi dan militer Myanmar dikemukakan oleh PBB dan Amerika Serikat sebagai contoh pembersihan etnis. Ini mendorong peningkatan penyeberangan pengungsi ke Bangladesh, di mana Rohingya hidup dalam kondisi yang jorok.

Perjanjian tersebut memberi dua agen U.N. akses ke area di Rahkine, sebelumnya mereka dilarang berkunjung.

Sementara Ostby memuji perjanjian itu sebagai "langkah pertama dan sangat penting," Mathew Smith dari organisasi hak asasi manusia, Fortify Rights mencatat bahwa itu tidak menjanjikan perubahan.

"Jika mereka ingin memulangkan para pengungsi mereka harus mulai dengan menutup kamp-kamp interniran [di Negara Bagian Rakhine] dan mendukung Rohingya dari kamp-kamp itu untuk membangun kembali kehidupan mereka dengan bermartabat," kata Smith kepada NPR, menambahkan bahwa Rohingya belum ditawarkan kewarganegaraan atau kebebasan gerakan. "Pemerintah tidak melakukan semua itu."

#Tagar Berita

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

7 Bahan Ini Akan Buat Susu yang Kamu Minum Jadi Lebih Sehat
28 Februari 2018, by Ghilman Azka Fauzan
Tampang.com - Susu menjadi salah satu minuman sehat yang populer dikonsumsi. Dengan tingginya kandungan mineral dan vitamin, tentunya susu menjadi pilihan ...
Kerja Enak dapat Gaji Besar, pasti Banyak yang Mau, Kerja Apa sih…?
7 Desember 2017, by Rahmat Zaenudin
Tampang.com - Wah kalau kerja yang kayak gitu sih pasti semua orang mau tuh, tapi jangan – jangan kerjaan yang negative nih? Atau beresiko tinggi? Nggak ...
rudiger chelsea
11 Juli 2017, by Ghilman Azka Fauzan
Tampang.com - Setelah lolos tes medis yang dijalaninya pada Minggu (9/7/2017), akhirnya Antonio Ruediger resmi berbaju Chelsea.  Ruediger perkuat Chelsea ...
Ririn Dwi Ariyanti Lahirkan Anak ketiga
16 April 2018, by Retno Indriyani
Tampang.com - Ririn Dwi Ariyanti melahirkan anak ketiga dengan jenis kelamin laki-laki.. Aldi Bragi, suami Ririn Dwi Ariyanti mengunggah foto sang buah hati di ...
Yuk, Kita Teladani Sifat Rasul dalam Meminta Maaf!
19 Februari 2018, by Dika Mustika
Dalam hidup, ada banyak peristiwa juga rasa. Tak jarang, kita juga dihadapkan pada dilema di antara sekian pilihan tindakan daam merespon sebuah peristiwa. Ada ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
hijab