Tutup Iklan
JasaReview
  
login Register
Pengembangan Baterai Isi Ulang dari Molekul Organik

Pengembangan Baterai Isi Ulang dari Molekul Organik

18 September 2017 | Dibaca : 758x | Penulis : Rindang Riyanti

Sebuah tim peneliti dari National University of Singapore (NUS) telah berhasil merancang sebuah bahan organik baru dengan konduktivitas listrik dan kemampuan retensi energi yang superior untuk digunakan dalam aplikasi baterai. Penemuan ini membuka jalan bagi pengembangan baterai isi ulang yang stabil, berkapasitas tinggi dan ramah lingkungan.

Baterai isi ulang adalah komponen penyimpanan energi utama di banyak sistem baterai berskala besar seperti kendaraan listrik dan smartphone. Dengan meningkatnya permintaan akan sistem baterai ini, peneliti beralih ke metode produksi yang lebih ramah lingkungan. Salah satu metode tersebut adalah dengan menggunakan bahan organik sebagai elektroda pada baterai isi ulang.

Elektroda organik mengotori lingkungan dengan lebih rendah selama produksi dan pembuangannya menawarkan alternatif yang lebih ramah lingkungan untuk elektroda oksida logam anorganik yang biasa digunakan pada baterai isi ulang. Struktur elektroda organik juga dapat direkayasa untuk mendukung kemampuan penyimpanan energi yang tinggi. Tantangannya, bagaimanapun, adalah konduktivitas listrik dan stabilitas senyawa organik yang buruk saat digunakan pada baterai. Bahan organik yang saat ini digunakan sebagai elektroda dalam baterai isi ulang - seperti polimer konduktif dan senyawa organosulfer - juga menghadapi kehilangan energi dengan cepat setelah beberapa muatan.

Untuk mengatasi keterbatasan ini, Prof Loh dan tim risetnya mensintesis molekul senyawa organik 3Q (π-conjugated quinoxaline-based heteroaromatic molecule) yang memiliki hingga enam lokasi penyimpanan muatan per molekul dalam upaya meningkatkan daya konduksi dan retensi energinya.

Ketika dihibridisasi dengan graphene dan digunakan dalam elektrolit berbasis eter, tim mengamati bahwa elektroda berbasis 3Q menunjukkan konduktivitas listrik yang tinggi pada 395 miliampere jam per gram. Ini juga menunjukkan kemampuan retensi energi yang kuat setelah beberapa siklus pengisian dan pelepasan.

Prof Loh menjelaskan, "Studi kami memberikan bukti bahwa 3Q, dan molekul organik dari struktur serupa, yang dikombinasikan dengan graphene, menjanjikan kandidat untuk pengembangan baterai isi ulang ramah lingkungan dan berkapasitas tinggi dengan siklus hidup yang panjang."

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Bripda Yoga Terima Penghargaan karena Kesabarannya Hadapi Serda Wira
12 Agustus 2017, by Rahmat Zaenudin
Tampang.com - Polisi ganteng yang menjadi korban pemukulan oknum TNI, Bripda Yoga Vernando, mendapatkan hikmah yang besar dari kasus ini. Setelah sabar dalam ...
mayweather
17 Juli 2017, by Ghilman Azka Fauzan
Tampang.com - Floyd Mayweather Jr. menunjukkan kepongahannya di depan McGregor, sang calon lawan. Mayweather memberikan ultimatum bahwa McGregor akan menderita ...
Kenali tanda anak yang bermasalah
13 Mei 2017, by titin
Anak yang memiliki masalah dengan kemampuan sosial emosionalnya, bisa dilihat dari beberapa tanda. Tandanya bahkan bisa diketahui sejak anak baru berumur dua ...
gairah seksual
11 Februari 2018, by Rahmat Zaenudin
Merajut tali cinta dengan pasangan, biasanya disertai dengan bumbu-bumbu seks di ranjang. Namun, tak sedikit yang kesulitan dalam meningkatkan gairah seksual ...
PM Kanada Trudeau Ingin Penyelidikan Mengapa Tentara Israel Menembak Dokter
17 Mei 2018, by Slesta
Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau menyerukan penyelidikan mengapa tentara Israel menembak seorang dokter Kanada di Gaza. Dr. Tarek Loubani berada di ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
hijab