Tutup Iklan
ObatDiabetes
  
login Register
Hati-hati, Skizofrenia Bisa Mengenai Siapa Saja

Hati-hati, Skizofrenia Bisa Mengenai Siapa Saja

8 Juli 2018 | Dibaca : 177x | Penulis : Maman Soleman

Tak banyak yang menyadari, skizofrenia yang merupakan gangguan jiwa berat sebenarnya dapat terjadi pada siapa saja. Penyakit ini tidak hanya sudah ada berbarengan dengan munculnya peradaban, tetapi juga dapat ditemukan di mana saja pada berbagai ras, budaya, maupun kelas sosial.

Diperkirakan, satu dari 100 penduduk dunia menderita skizofrenia. Menurut situs British Columbia Schizophrenia Society, penyakit ini biasanya muncul pada mereka yang berusia muda 16-25 tahun. Namun, pada perempuan umumnya lebih lambat, antara umur 20-30 tahun.

Di Indonesia, jumlah penderita skizofrenia juga cukup besar. Data menunjukkan, gangguan jiwa ini diderita 6-19 orang per 1.000 penduduk. Kalau Jumlah penduduk Indonesia diperkirakan 265 juta jiwa, maka tak kurang dari dua juta penduduk menderita gangguan jiwa berat ini.

Meski penyebab pasti sampai saat ini belum diketahui, hasil penelitian menunjukkan adanya ketidakseimbangan sistem neurotransmiter dalam otak, yaitu dopamin dan serotonin. Penderita dengan kadar dopamin berlebih menunjukkan gejala positif, seperti gaduh gelisah, selalu bergerak, dan selalu curiga (paranoid). Yang kadar serotoninnya berlebih memperlihatkan gejala negatif, seperti pasif, menarik diri, dan kehilangan emosi.

Namun, tidak perlu khawatir, karena skizofrenia sebenarnya bisa disembuhkan atau paling tidak dikontrol gejalanya. Mereka yang sudah sembuh pun bisa kembali produktif, bahkan banyak yang lebih tekun dan lebih disiplin dibanding mereka yang normal.

Makin dini dideteksi, tentu saja makin baik hasilnya. Karena itu, para ahli jiwa mengimbau keluarga yang menemukan tanda-tanda dini pada anggota keluarganya, seperti suka melamun, mengeluarkan pendapat yang tidak rasional, ketidakmampuan konsentrasi untuk hal sederhana, sukar menangis atau tertawa, sampai menunjukkan bahasa tubuh yang tidak biasa, untuk segera diajak berkonsultasi.

Selain mendapat terapi obat, penderita skizofrenia biasanya juga diajak untuk kembali bersosialisasi, melakukan aktivitas sehari-hari, maupun belajar berhitung, menulis, dan membaca. Namun, yang paling penting sebenarnya adalah bagaimana peran keluarga dan masyarakat pascarehabilitasi. Justru dukungan merekalah yang bisa membantu mengurangi kekambuhan.

#Tagar Berita

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Grace Gabriela Bocah 6 Tahun Meninggal Ditemukan Tewas di Dalam Karung
8 Mei 2018, by Jenis Jaya Waruwu
Orangtua mana yang tidak sedih dan perasaan sangat kehilangan ketika anaknya meninggal dunia? Tentu semua orang pasti merasakan hal yang sama, bukan? ...
2017 Cetak Sejarah Baru Sebagai Tahun Teraman Dalam Penerbangan
23 Januari 2018, by Zeal
Tampang - Tahun 2017 yang baru saja kita lalui masih menyisakan berbagai cerita. Terlepas dari berbagai kasus narkoba dan tindakan kriminal lainnya, tahun 2017 ...
Fenomena Poltergereist Tertangkap Kamera CCTV
9 Oktober 2017, by Rio Nur Arifin
Poltergeist adalah sebuah istilah dalam dunia paranormal untuk suatu benda yang bergerak dan bahkan melayang tanpa diketahui kekuatan apa yang membuat benda ...
Tunggal Putra Indonesia Berhenti di Babak Awal Hongkong Open 2017
23 November 2017, by Admin
Tampang.com  - Dua tunggal putra pelatnas, Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting akhirnya harus melupakan kesempatan tampil di Super Series (SS) ...
Fakta Menarik Kepribadian Berdasarkan Golongan Darah
25 Maret 2018, by Jenis Jaya Waruwu
Golongan darah manusia dibagi menjadi empat, yakni O, A, B dan AB. Berdasarkan golongan darah ini, kita dapat menilai kepribadian atau karakter seseorang. ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
JusKulitManggis