Tutup Iklan
hijab
  
login Register
Hati-hati, Skizofrenia Bisa Mengenai Siapa Saja

Hati-hati, Skizofrenia Bisa Mengenai Siapa Saja

8 Juli 2018 | Dibaca : 26x | Penulis : Maman Soleman

Tak banyak yang menyadari, skizofrenia yang merupakan gangguan jiwa berat sebenarnya dapat terjadi pada siapa saja. Penyakit ini tidak hanya sudah ada berbarengan dengan munculnya peradaban, tetapi juga dapat ditemukan di mana saja pada berbagai ras, budaya, maupun kelas sosial.

Diperkirakan, satu dari 100 penduduk dunia menderita skizofrenia. Menurut situs British Columbia Schizophrenia Society, penyakit ini biasanya muncul pada mereka yang berusia muda 16-25 tahun. Namun, pada perempuan umumnya lebih lambat, antara umur 20-30 tahun.

Di Indonesia, jumlah penderita skizofrenia juga cukup besar. Data menunjukkan, gangguan jiwa ini diderita 6-19 orang per 1.000 penduduk. Kalau Jumlah penduduk Indonesia diperkirakan 265 juta jiwa, maka tak kurang dari dua juta penduduk menderita gangguan jiwa berat ini.

Meski penyebab pasti sampai saat ini belum diketahui, hasil penelitian menunjukkan adanya ketidakseimbangan sistem neurotransmiter dalam otak, yaitu dopamin dan serotonin. Penderita dengan kadar dopamin berlebih menunjukkan gejala positif, seperti gaduh gelisah, selalu bergerak, dan selalu curiga (paranoid). Yang kadar serotoninnya berlebih memperlihatkan gejala negatif, seperti pasif, menarik diri, dan kehilangan emosi.

Namun, tidak perlu khawatir, karena skizofrenia sebenarnya bisa disembuhkan atau paling tidak dikontrol gejalanya. Mereka yang sudah sembuh pun bisa kembali produktif, bahkan banyak yang lebih tekun dan lebih disiplin dibanding mereka yang normal.

Makin dini dideteksi, tentu saja makin baik hasilnya. Karena itu, para ahli jiwa mengimbau keluarga yang menemukan tanda-tanda dini pada anggota keluarganya, seperti suka melamun, mengeluarkan pendapat yang tidak rasional, ketidakmampuan konsentrasi untuk hal sederhana, sukar menangis atau tertawa, sampai menunjukkan bahasa tubuh yang tidak biasa, untuk segera diajak berkonsultasi.

Selain mendapat terapi obat, penderita skizofrenia biasanya juga diajak untuk kembali bersosialisasi, melakukan aktivitas sehari-hari, maupun belajar berhitung, menulis, dan membaca. Namun, yang paling penting sebenarnya adalah bagaimana peran keluarga dan masyarakat pascarehabilitasi. Justru dukungan merekalah yang bisa membantu mengurangi kekambuhan.

#Tagar Berita

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Inilah 5 Lomba Agustusan yang Paling Melegenda di HUT RI
18 Agustus 2017, by Slesta
Tampang.com – Kemeriahan HUT RI biasanya dirayakan dengan berbagai perlombaan. Perlombaan biasanya digelar oleh masyarakat dan lembaga di berbagai ...
Ini Alasan Kroasia Berpeluang Keluar Sebagai Juara Piala Dunia 2018
15 Juli 2018, by Jenis Jaya Waruwu
Timnas Kroasia telah memecahkan rekor dan membuat sejarah baru di Piala Dunia. Untuk pertama kalinya mereka berhasil lolos final Piala Dunia. Rekor tersebut ...
gerard deulofeu
1 Juli 2017, by Ghilman Azka Fauzan
Tampang.com - Untuk memulangkan kembali Gerard Deulofeu dari Everton, Barcelona telah mengaktifkan klausul pembelian kembali yang dikabarkan mencapai €12 ...
Berat Badan TurunsSampai 30 kg dalam Waktu 6 Bulan
1 September 2017, by Rachmiamy
Memiliki tubuh yang ramping dan juga ideal adalah impian sebagian besar kaum wanita. Lalu, bagaimana jika kita sudah terlanjur bertubuh besar? Pasti kita akan ...
Cina: Kebijakan Korea Utara 'Konsisten' dengan Denuklirisasi
19 Mei 2018, by Slesta
Penarikan Korea Utara dari pertunangan persahabatan dengan Amerika Serikat dan Korea Selatan tidak mengubah kebijakan Korea Utara China, kementerian luar ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
glowhite