Tutup Iklan
SabunPemutih
  
login Register
Dato Karamah, Sang Penyebar Islam di Palu, Sulawesi Tengah

Dato Karamah, Sang Penyebar Islam di Palu, Sulawesi Tengah

18 Juli 2018 | Dibaca : 990x | Penulis : Maman Soleman

Hanya sedikit tempat wisata spiritual di Kota Palu dan sekitarnya. Salah satunya adalah Situs Bersejarah Makam Dato Karamah, tokoh Minang yang pertama kali menyebarkan Islam di daerah tersebut.

Nama Dato Karamah memang tidak setenar nama para Wali Songo di Jawa atau Sultan Suriansyah di Tanah Banjar, Kalimantan Selatan. Selain sebagai tokoh agama, Wali Songo dan Sultan Suriansyah adalah petinggi kerajaan, sedangkan Dato Karamah hanyalah warga biasa. Kendati demikian, jasa Dato Karamah sama besar dan mulia dengan para tokoh tersohor tadi. Dari Dato Karamah inilah warga Palu dan sekitarnya mengenal agama Islam yang kini menjadi agama mayoritas di ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah itu.

Makam Dato Karamah terletak di tanah lapang. Di depan pintu masuk, ada papan nama kecil bertuliskan Situs Purbakala Makam Dato Karamah. Kendaraan hanya boleh sampai di depan gang. Sisa jarak 200 meter ke dalam makam harus dilalui dengan berjalan kaki, di atas jalan tanah (yang kalau musim hujan tiba pasti berlumpur) sekira satu meter.

Dari jauh, tampak bangunan beton berarsitektur rumah gadang khas Sumatra Barat. Konstruksi rumahnya mengikuti rumah adat Sumatra Barat sebab Dato Karamah berasal dari Tanah Minang. Dari rumah itulah terdapat makam Dato Karamah. Di samping bangunan tadi ada rumah panggung kecil milik Aziz Muhamad Paderu, juru kunci situs makam tersebut.

Kompleks makam tersebut selalu dalam keadaan terkunci, tetapi pengunjung yang hendak berziarah tidak akan mengalami kesulitan sebab keluarga Aziz Paderu selalu siap membukakannya. Ada 21 makam dalam kompleks situs bersejarah itu. Ada pula makam istri Dato, makam kerabat, dan makam para pengikut setianya.

Bagaimana kisah Dato Karamah berada di Palu? Alkisah, Dato Karamah dan istrinya terdampar di perairan Palu pada abad ke-16 atau ke-17. Mereka sedang dalam pelayaran ke timur. Akan tetapi, perahu yang mereka tumpangi karam dihantam badai. Mereka terdampar di Karampe, lalu menyeberang ke Palu. Di Palu, mereka mendarat di Panggona. Kampung Panggona ini kemudian diubah namanya oleh Dato Karamah menjadi Kampung Lere. Alasannya, di kawasan ini terdapat banyak rumput kalere.

Dato Karamah dan keluarganya menetap di kampung tersebut. Selain berdagang, Dato juga menjadi guru agama Islam untuk warga sekitar yang ketika itu masih menganut kepercayaan leluhur. Dato Karamahlah yang pertama kali menyebarkan agama Islam di Palu dan sekitarnya, sedangkan agama Islam yang masuk Lewu (satu kabupaten di Sulawesi Tengah) masuk dari Ternate, dibawa oleh pedagang Makassar dan Arab.

#Tagar Berita

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Apa Sebenarnya Motif Penembak Massal Las Vegas?
9 Oktober 2017, by Slesta
Tampang.com – Las Vegas telah di gegerkan oleh aksi penembakan massal yang dilakukan oleh sorang pria pensiunan akuntan bernama Stephen Paddock. Ia ...
pori wajah
23 Juli 2017, by Rachmiamy
Pori-pori adalah sebuah rongga kecil yang menjadi akses pernapasan kulit. Dengan adanya pori-pori maka kulit bisa melakukan proses metabolisme dan regenerasi ...
BI : Masyarakat di Minta Waspada Maraknya Uang Palsu Jelang Lebaran
9 Juni 2017, by Retno Indriyani
Tampang.com - Penukaran uang menjelang lebaran marak dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Hal ini dilakukan untuk melanjutkan tradisi berbagi ...
Indonesia Raih 4 Penghargaan Desain Asia
12 September 2017, by Alfi Wahyu Prasetyo
Pada tahun ke-10, kompetisi desain bangunan FuturArc Prize-Asia telah mengumpulkan gagasan yang inovatif dari para profesional dan mahasiswa secara ...
Kenali Tanda Wanita yang sudah Lama tidak Berhubungan Intim
24 Januari 2019, by Rahmat Zaenudin
Tampang.com - Berhubungan intim memang menjadi kebutuhan bagi pasangan suami istri dalam mengarungi bahligai rumah tangganya. Sedemikian pentingnya arti ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
glowhite