Kesedihannya semakin mendalam ketika ia tidak bisa langsung pulang ke Tuban untuk mengantar kepergian sang ayah. Banyak rekan kerjanya saat itu yang sakit akibat pandemi Covid-19, sehingga tidak ada yang bisa menggantikannya.
Keesokan harinya, ia akhirnya mengajukan cuti selama dua hari untuk menghadiri pemakaman. "Tetap ada rasa bersalah karena tidak bisa berada di samping bapak di momen terakhirnya," tuturnya.
Selama musim mudik, volume perjalanan kereta api meningkat drastis. Jika pada hari biasa jumlah kereta yang melintas di perlintasan tempatnya bekerja berkisar 105 kali per hari, maka saat Lebaran bisa mencapai 115 kali per hari.
"Jadi harus lebih waspada, lebih ketat dalam penjagaan," ungkapnya.
Jadwal kerjanya pun tetap sama seperti hari biasa, dengan sistem tiga sif:
06.00 - 14.00 WIB
14.00 - 22.00 WIB
22.00 - 06.00 WIB
Saat bertugas, ia selalu memastikan palang pintu tertutup dengan baik dan berkoordinasi dengan pos komando pusat melalui handy talkie. Setiap keputusan yang diambil harus tepat, karena kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat fatal.
Meski tidak bisa berkumpul dengan keluarga, Dimas tetap bersyukur karena mendapat dukungan penuh dari istri dan orang-orang terdekatnya.