Yang lebih meresahkan, pria dewasa di Korea Selatan memiliki risiko bunuh diri yang hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan wanita. Tingkat bunuh diri pria meningkat dari 35,3 menjadi mencapai 38,3 per 100.000 jiwa, sedangkan wanita juga mengalami kenaikan dari 15,1 menjadi 16,5 per 100.000 jiwa.
Data menunjukkan bahwa risiko bunuh diri semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Kelompok usia 80 tahun ke atas mencatatkan tingkat bunuh diri tertinggi, yaitu 59,5 per 100.000 jiwa. Mereka yang berusia di dekade tujuh juga menunjukkan angka tinggi, yakni 39 per 100.000 jiwa.
Di sisi lain, kelompok remaja menunjukkan fenomena yang berbeda, di mana remaja perempuan mengalami bunuh diri lebih banyak dibandingkan remaja laki-laki, dengan angka mencapai 8,8 per 100.000 jiwa, sedangkan remaja laki-laki tercatat pada angka 7,1.
Ketidakpuasan hidup dan angka bunuh diri yang meningkat tidak hanya menjadi masalah individu, tetapi juga mencerminkan masalah yang lebih besar dalam masyarakat Korea Selatan. Negara ini saat ini memegang rekor tertinggi tingkat bunuh diri di antara 38 negara anggota OECD. Pada tahun 2021, angka bunuh diri Korea Selatan mencapai 24,3 per 100.000 jiwa, jauh di atas angka Lithuania yang berada di posisi kedua dengan 18,5. Sebagai perbandingan, Yunani berada di posisi terendah dengan hanya 3,5 per 100.000 jiwa.
Selain lonjakan angka bunuh diri, indikator lainnya yang menunjukkan penurunan kualitas hidup adalah melemahnya hubungan antaranggota keluarga. Survei menunjukkan kepuasan terhadap hubungan keluarga di Korea Selatan hanya mencapai 63,5% pada tahun 2023, turun satu persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepercayaan antarindividu pun menunjukkan tren menurun, dengan data menunjukan hanya ada 52,7% yang merasa saling percaya satu sama lain, angka yang jauh lebih rendah dibandingkan 59,3% yang tercatat pada tahun 2021.
Menambah ketegangan, biaya hidup, terutama di sektor pendidikan, terus meningkat. Pengeluaran untuk pendidikan mengalami peningkatan sebesar 3,2% dan kini telah mencapai 60,9% dari pendapatan, memperparah keresahan masyarakat terhadap masa depan anak-anak mereka.