Tampang.com | Muhammad Haryono, seorang sopir taksi yang menjadi saksi kunci dalam kasus penembakan warga oleh anggota polisi di Kalimantan Tengah, justru menghadapi tuntutan pidana berat. Meski berstatus sebagai saksi terlindung dan justice collaborator, jaksa penuntut umum (JPU) menuntut Haryono dengan hukuman penjara 15 tahun karena dianggap turut terlibat dalam tindak pidana pencurian dengan kekerasan yang berujung pada hilangnya nyawa seseorang.
Dakwaan Sama, Hukuman Berbeda
Sidang pembacaan tuntutan terhadap Haryono (MH) dan Brigadir Anton Kurniawan Stiyanto (AKS) digelar terpisah di Pengadilan Negeri Palangka Raya, Rabu (14/5/2025). Keduanya dijerat dengan Pasal 365 Ayat 4 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan kematian serta Pasal 181 Jo 55 Ayat 1 KUHP tentang keterlibatan dalam menyembunyikan kejahatan.
JPU Dwinanto Agung Wibowo menjelaskan bahwa tuntutan terhadap MH mempertimbangkan statusnya sebagai saksi pelaku yang bekerja sama dengan aparat penegak hukum. “Karena dia merupakan saksi terlindung dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), maka kami memberikan tuntutan lebih ringan dibanding Brigadir AKS, yaitu 15 tahun penjara,” ujarnya.