Penelitian ini juga menemukan bahwa overthinking lebih dominan pada kelompok usia muda, khususnya individu yang berusia di bawah 40 tahun, serta lebih sering terjadi pada perempuan dan mereka yang tidak memiliki pekerjaan atau baru saja kehilangan pekerjaan. Faktor-faktor tekanan ekonomi seperti melonjaknya harga bahan pokok dan meningkatnya biaya layanan kesehatan diketahui menjadi penyebab utama yang turut meningkatkan risiko overthinking di Indonesia.
Ray menuturkan lebih lanjut, "Faktor-faktor ini meningkatkan risiko overthinking hingga 2,0 hingga 2,2 kali lipat." Menariknya, informasi politik yang membingungkan juga berkontribusi pada peningkatan potensi overthinking sampai 1,8 kali lipat. Berita tentang penyakit baru dan risiko wabah menjadi salah satu pendorong utama yang menyebabkan individu mengalami pola pikir negatif ini.
Melihat hasil penelitian yang signifikan ini, HCC mendesak pemerintah untuk melakukan tindakan yang terarah dan sistematis guna menangani sebab-sebab yang memicu fenomena pola pikir negatif ini. "Dampak dari overthinking bukan hanya sekadar masalah kesehatan mental, tetapi juga mempengaruhi produktivitas dan kualitas hidup individu," imbuh Ray. Mereka yang sering terjebak dalam siklus pikir berulang ini cenderung lebih rentan terhadap stres, kecemasan, dan bahkan depresi.