Tutup Iklan
powerman
  
login Register
Sinyal SBY yang tidak akan Mencalonkan AHY

Sinyal SBY yang tidak akan Mencalonkan AHY

19 Februari 2018 | Dibaca : 499x | Penulis : Gatot Swandito

Sabtu 17 Februari 2018, melalui prosesi pemberian bendera, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mengukuhkan putra sulungnya, Agus Harimurti Yudhoyono, sebagai Ketua Komando Tugas Bersama (Kosgama).

Dengan pengukuhannya tersebut, Agus yang juga dikenal dengan panggilan AHY ditugasi oleh SBY komandan pemenangan Partai Demokrat dalam Pilkada Serentak 2018 sekaligus Pemilu 2019.

Jika melihat struktur Demokrat, di mana ketua Komisi Pemenangan Pemilu Partai Demokrat ditempati oleh Edhie Baskoro Yudhoyono, maka AHY sebagai Kosgama akan berduet dengan adik kandungnya untuk memenangkan partai yang dipimpin oleh  ayah kandung keduanya.

Banyak yang mengatakan jika pengukuhan tersebut sebagai kode keras dari SBY yang akan menerjunkan putranya dalam Pilpres 2019, entah itu sebagai capres atau sebagai cawapres.

Tidak ada yang salah dengan pernyataan tersebut mengingat AHY sudah menjadi tokoh yang namanya muncul dalam sejumlah rilis lembaga survei. Bahkan, beberapa lembaga survei menyebut  tingkat popularitas dan tingkat elektabilitas AHY mengungguli Gatot Nurmantyo.

Tingginya tingkat popularitas yang dimiliki oleh AHY yang konon sudah melampaui angka 50 persen memang sangat wajar mengingat keikutsertaannya dalam Pilgub DKI 2017 yang banyak disorot media. Selain itu, sejak setengah tahun belakangan ini, baliho-baliho berfotokan AHY memajang di sejumlah lokasi strategis di hampir segala penjuru sudut kota.

Lewat riset sederhana yaitu dengan menunjukkan kartu-kartu bertuliskan “Joko Widodo (Jokowi)”, “Prabowo Subianto”, “Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)”, “Anies Baswedan”, dan “Gatot Nurmantyo” kepada responden..

Terbukti jika jumlah responden yang mengambil kartu “Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)” jauh lebih banyak dari jumlah responden yang mengambil kartu “Anies Baswedan” dan kartu “Gatot Nurmantyo”.

Popularitas AHY memang menanjak tajam. Artinya, strategi promosi yang dijalankan Demokrat sudah tepat. Tetapi, apakah menanjaknya popuratitas AHY sudah pasti diikuti dengan meroketnya tingkat elektabilitas?  

Jawabannya tidak. Elektabilitas akan meningkat jika popularitas dipasok oleh sentimen positif.

Pertanyaannya kemudian, apakah popularitas AHY lebih disokong oleh sentimen positif atau negatif?

Jawabannya pasti sulit dicari. Hal ini mengingat kemunculan AHY diiringi oleh sentimen positif dan sentimen negatif atau pro dan kontra. Inilah yang membuat AHY menjadi sosok yang kontroversial.

Sesuai rencana AHY akan diturunkan sebagai juru kampanye dalam Pilkada Serentak. Tentu saja, aktivitasnya ini akan membuat AHY lebih populer lagi.

Dengan popularitas tinggi yang dimilikinya, AHY seharusnya menjadi salah seorang jagoan yang diincar parpol-parpol untuk diadu dalam laga Pilpres 2019.

Saat Pilgub DKI 2017, PAN, PKB, dan PPP bergabung dengan Demokrat untuk mengusung AHY yang ketika itu masih bau kencur. Bisa dibilang dukungan ketiga parpol tersebut hanyalah sebuah joke semata. Toh, kekalahan AHY tidak mempengaruhi elektabilitas ketiga parpol tersebut.

Masalahnya, Pilgub DKI 2017 pastinya sangat jauh berbeda dengan Pilpres 2019. Dukungan parpol kepada pasangan capres-cawapres dalam Pilpres 2019, yang digelar serentak dengan Pemilu Legislatif 2019, pastinya akan berdampak pada perolehan suara parpol.

Serangan pada salah satu dari pasangan calon pastinya akan mempengaruhi tingkat keterpilihan parpol. Karenanya, parpol tidak akan memilih untuk mendukung calon atau partai asal calon yang berpeluang paling banyak mendapat serangan kampanye negatif.

Serangan kampanye negatif beramunisikan kasus korupsi e-KTP yang saat ini mengarah ke Demokrat jauh lebih menghancurkan ketimbang kasus korupsi Hambalang dan Wisma Atlet yang melibatkan elit-elit Demokrat. Sebab, kasus korupsi e-KTP langsung mengarah ke simbol Demokrat yang paling “disakralkan”, yaitu SBY.

Sebagai perbandingan, meski saat Pileg 2014 Demokrat masih berkuasa, tetapi terpaan rentetan kasus korupsi yang menjerat sejumlah petinggi Demokrat tidak sanggup dihadapi oleh Demokrat. Dan, hasilnya suara Demokrat pun terjun bebas dari raihan suara lima tahun sebelumnya.

Padahal, saat Pileg 2014 Anies Baswedan, Dahlan Iskan, Gita Wiryawan dan seluruh peserta konvensi calon presiden Demokrat lainnya turun gunung untuk memenangkan partai besutan SBY tersebut.

Jika AHY mau dicalonkan, entah dengan cara apa SBY meyakinkan kolega-kolega politiknya untuk memberikan dukungan pada AHY dalam Pilpres 2019 nanti?

Terapi, jika dicermati penunjukan yang disusul pengukuhan AHY sebagai Kosgama bisa dibilang merupakan sinyal kuat dari SBY untuk tidak mencalonkan AHY dalam Pilpres 2019.

Kuncinya, dalam sejarah pilpres di Indonesia belum pernah ada capres atau cawapres yang sekaligus ketua tim pemenangan pemilu.

Dalam Pilpres 2014, Tim Kampanye Nasional Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dipimpin oleh Mahfud MD. Sementara, Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Jusuf Kalla dinahkodai oleh Tjahjo Kumolo.

Saat menghadapi Pilpres 2009, Mayjen Purn Theo Syafei ditunjuk sebagai Ketua Tim Sukses Mega-Prabowo. Tim pemenangan Pasangan SBY-Boediono dipimpin Hatta Rajasa sebagai dan Marsekal Purn Djoko Suyanto sebagai wakil ketua. Sedangkan, tim sukses JK-Wiranto dikomandoi kader senior Partai Golkar, Fahmi Idris.

SBY yang pada 2004 dicapreskan dengan berpasangan dengan JK sebagai cawapresnya pun tidak mengetuai sendiri tim pemenangan kampanyenya. Pasangan pemenang Pilpres 2004 ini menugaskan Mohammad Makruf sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional.

Jadi, dari pengalaman pilpres-pilpres sebelumya, sangat jelas jika pengukuhan AHY sebagai Kosgama menunjukkan jika SBY tidak memproyeksikan putra sulungnya itu sebagai capres ataupun cawapres.

Sinyal SBY ini dikuatkan oleh Sekretaris Jenderal Demokrat Hinca Panjaitan yang mengatakan jika partainya masih memiliki waktu yang cukup panjang untuk mempersiapkan AHY. Alasannya,  pendaftaran capres dan cawapres baru digelar pada 4-10 Agustus 2018.

“Sampai tiba waktunya kami memutuskan apakah capres atau cawapres sepanjang koalisi partainya juga cukup. Namun, kami tidak berhenti untuk mempersiapkan beliau menuju 2019,” kata  Hinca (Sumber: JPPN.com).

Tetapi, kode SBY tidak hanya berputar pada tidak dicalonkannya AHY. Kembali, jika mengacu pada pengalaman pilpres-pilpres sebelumnya di mana ketua tim pemenangan kampanye diisi oleh tokoh-tokoh senior yang kenyang makan asam garam dalam berbagai pergulatan politik, maka SBY juga tidak menyiapkan Kogasma untuk Pilpres 2019.

Lagi pula, Kembali jika mengacu pada pengalaman pilpres-pilpres sebelumnya, apakah mungkin ada capres atau cawapres potensial 2019 yang mau menyerahkan nasibnya ke tangan AHY yang dinilai masih belia dalam pertarungan pemilu yang bisa dipastikan berjalan sengit.

Artinya, SBY berencana tidak akan turut dalam laga Pilpres 2019. Dengan demikian, Pilpres 2019 akan kembali diikuti oleh dua pasangan calon yang diajukan oleh kubu Megawati dan kubu Prabowo. Dengan begitu, Pilpres 2019 akan berlangsung hanya dalam satu putaran.

#Tagar Berita

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Campuran Jus Lemon dengan Bahan- bahan ini akan Menjadi Solusi bagi Kulit Berminyak Anda
3 Januari 2018, by Rachmiamy
Kulit wajah yang berminyak tentulah membuat kita terutama kaum wanita merasa kurang percaya diri. Selain terlihat kusam, minyak berlebih pada wajah juga dapat ...
Tak Punya Uang Berobat, Seorang Ibu Menyaksikan Anaknya Meninggal
9 September 2017, by Rahmat Zaenudin
Tampang.com- Kisah ini bermula pada Minggu dini hari, 3 September 2017 sekitar pukul 02.30 WIB, Bayi Debora sesak nafas. nafasnya tersengal. sebelumnya Debora ...
 Hati – Hati 3 Hal Ini Jangan Dikatakan Kepada Anak Anda
19 Desember 2017, by Slesta
Tampang.com – Setiap orang yang telah menikah pastinya menginginkan seorang anak sebagai buah cintanya dengan pasangan bukan? Dengan rasa cinta yang ...
Begini Kritik Prabowo Soal Aturan Tenaga Kerja Asing yang Diteken Jokowi
2 Mei 2018, by Jenis Jaya Waruwu
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mengkritisi Presiden Joko Widodo atau Jokowi terkait aturan tenaga kerja asing. Prabowo Subianto mengatakan ...
NASA Gunakan Detektor Asteroid Berbahaya untuk Selamatkan Sebuah Kota
24 Maret 2018, by Maman Soleman
Mencari asteroid yang berbahaya bagi bumi tidaklah semudah yang kita kira. Asteroid sulit untuk dilihat dari permukaan planet karena kondisi yang gelap dan ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
powerman