Tutup Iklan
JasaReview
  
login Register
Risiko Serangan Jantung Dapat Meningkat Ketika Suhu Turun

Risiko Serangan Jantung Dapat Meningkat Ketika Suhu Turun

19 Mei 2018 | Dibaca : 230x | Penulis : Slesta

Cuaca dingin dapat meningkatkan risiko serangan jantung, sebuah studi awal menunjukkan.

Para peneliti di Taiwan menemukan bahwa tingkat serangan jantung berfluktuasi secara musiman, dengan lebih banyak terjadi di musim dingin daripada musim panas. Ketika suhu turun di bawah 59 derajat Fahrenheit, serangan jantung meningkat secara dramatis, kata para penulis penelitian.

"Ketika suhu turun, orang yang berisiko tinggi terkena serangan jantung harus waspada terhadap gejala seperti nyeri dada dan sesak napas," kata penulis studi dan ahli jantung Dr. Po-Jui Wu.

Untuk penelitian ini, para peneliti menganalisis catatan kesehatan dari lebih dari 40.500 pasien serangan jantung Taiwan dari 2008 hingga 2011.

Informasi itu kemudian ditumpuk terhadap dua database lainnya. Satu berisi informasi tentang hampir 920.000 orang dewasa yang belum pernah mengalami serangan jantung, sementara pola cuaca lokal kedua dilacak yang dikumpulkan oleh Biro Cuaca Pusat Taiwan.

Para peneliti menemukan bahwa cuaca yang lebih dingin, perubahan cuaca, dan angin kencang masing-masing terkait dengan peningkatan risiko serangan jantung keesokan harinya.

Penelitian ini tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat. Namun, para peneliti menyarankan untuk mengambil langkah-langkah kesehatan masyarakat untuk mengingatkan pasien berisiko tinggi - mungkin melalui pesan ponsel cerdas - ketika perubahan cuaca yang bermasalah akan datang.

"Kelompok berisiko termasuk orang-orang yang mengalami serangan jantung sebelumnya, orang tua, atau mereka dengan faktor risiko seperti diabetes, tekanan darah tinggi, merokok, obesitas, dan gaya hidup menetap," kata Wu, dari Kaohsiung Chang Gung Memorial Hospital di Kaohsiung. Kota, Taiwan.

Penemuan ini akan dipresentasikan minggu ini di Taiwan pada pertemuan Masyarakat Kardiologi Asia Pasifik.

"Serangan jantung dapat menyebabkan orang mati mendadak, sehingga sangat penting untuk segera mencari bantuan medis ketika gejala muncul," Wu menambahkan dalam rilis berita dari European Society of Cardiology.

Penelitian yang dipresentasikan pada pertemuan biasanya dianggap awal sampai diterbitkan dalam jurnal medis peer-review.

#Tagar Berita

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Game dan Konsol Game Terlaris di Jepang 2017
6 Juli 2017, by Rio Nur Arifin
Ini adalah bulan Juli. Kita melewati titik pertengahan tahun ini, jadi ini adalah saat yang tepat untuk melihat perkembangan game dan konsol game di negara ...
Djarot akhirnya digantikan, Buwas Kini Menjabat sebagai Direktur Utama Perum Bulog
27 April 2018, by Zeal
tampang.com - Setelah menuntaskan tanggungjawab di Badan Narkotika Nasional (BNN), Komisaris Jendral (Purn) Budi Waseso kini ditunjuk sebagai DIrektur Utama ...
Hidayat Nur Wahid : Pilgub DKI aja Ahok Keok..Apalagi Jadi Wakil Jokowi
13 Oktober 2017, by Rahmat Zaenudin
Tampang.com - Basuki Thahaja Purnama alias Ahok mendapatkan hasil 16 persen responden sebagai sosok yang pantas mendampingi Jokowi pada Pilpres 2019. Hasil ...
Menurut Sains, Ada 4 Gejala yang Terjadi Saat Detik-Detik Menjelang Kematian
23 Agustus 2017, by Ghilman Azka Fauzan
Tampang.com - Sara Manning Peskin, salah satu pakar Neurologi dari University of Pennsylvania, mengungkapkan bagaimana gejala fisik pada detik-detik sebelum ...
Dua Pembalap Tim Suzuki Ecstar Gagal Mendapatkan Poin di MotoGP Malaysia
30 Oktober 2017, by Rachmiamy
Tim Suzuki Ecstar mengalami hasil yang buruk ketika melakukan balapan di Sirkuit Sepang Malaysia pada pergelaran seri ke 17 MotoGP 2017. Dua pembalapnya gagal ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
glowhite