Tutup Iklan
hijab
  
login Register
Peneliti Temukan Membran Baru Bantu Kurangi Emisi Karbondioksida

Peneliti Temukan Membran Baru Bantu Kurangi Emisi Karbondioksida

20 Agustus 2017 | Dibaca : 840x | Penulis : Rindang Riyanti

Universitas Twente dan Pusat Penelitian Jerman Jülich berkolaborasi dalam mengembangkan membran untuk pemisahan gas yang efisien.

Emisi CO2

Dalam beberapa dekade mendatang, sumber energi berkelanjutan (matahari, angin) dan penggunaan energi yang lebih efisien tidak cukup untuk mencapai mitigasi efek rumah kaca yang ditargetkan. Untuk mencapai tujuan iklim Eropa, pengumpulan dan penyimpanan CO2 dibutuhkan sekaligus. Tim peneliti mempertimbangkan konversi CO2 yang efisien ke bahan bakar (Carbon Capture and Utilization CCU). Diharapkan dengan cara ini, emisi CO2 di Eropa sampai 2030 bisa dikurangi sebesar 15%.

Alternatif yang jauh lebih baik dan lebih efisien

Teknik yang ada untuk menangkap CO2, seperti chemical washing cukup mahal. Teknologi oxyfuel, yang merupakan bahan bakar dibakar dengan oksigen murni dalam proses netral CO2, bukanlah solusi sempurna baik dengan tingkat teknologi saat ini, karena produksi oksigen murni melalui distilasi pada suhu -190 ° C membutuhkan banyak energi. Menggunakan membran yang mampu memisahkan oksigen adalah alternatif yang jauh lebih baik dan lebih efisien. Dengan cara ini, bahan bakar masih bisa dibakar dengan oksigen murni, menghasilkan gas dengan konsentrasi CO2 yang sangat tinggi. Salah satu kemungkinan lainnya adalah produksi bahan bakar sintetis, yang berkembang melalui reaksi CO2 dengan hidrogen melintasi membran.

Kolaborasi

Pusat Penelitian Universitas Twente dan Jülich telah memutuskan untuk bekerja sama untuk mengembangkan membran ceramic ion-conducting untuk tujuan ini. Membran ini ditujukan untuk reaktor membran, yang dalam keadaan ekstrim (suhu tinggi, tekanan tinggi) menggabungkan proses pemisahan dengan reaksi kimia, yang menghasilkan produksi bahan bakar sintetis atau bahan kimia dasar.

Prof. Dr. Wilhelm Meulenberg

Prof. Dr. Wilhelm Meulenberg, yang bekerja di Universitas Twente dan Pusat Penelitian Jülich, mempelopori penelitian tentang teknologi membran baru ini. Studi di Twente berfokus pada penunjukan membran keramik untuk aplikasi industri. Dengan pengetahuan ini, Jülich merakit komponen yang tepat untuk reaktor membran. "Kedua pasangan saling melengkapi dengan sempurna," menurut Meulenberg. "Itulah sebabnya kedua institusi tersebut akan memiliki banyak pertukaran PhD dan peneliti lainnya di tahun-tahun mendatang."

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Lutut dan Siku Hitam? Atasi dengan Bahan Alami Ini
15 Februari 2018, by Ghilman Azka Fauzan
Tampang.com - Memiliki kulit lutut dan siku yang hitam, pastinya membuat kepercayaan diri turun, terutama bagi wanita. Biasanya, kulit yang menghitam yang ada ...
Eropa Luncurkan eDeOrbit Bersihkan Sampah Antariksa
28 Mei 2018, by Maman Soleman
Sebuah kendaraan ruang angkasa, e.DeOrbit, telah diluncurkan ke angkasa untuk mengumpulkan puing-puing pesawat ruang angkasa atau sampah-sampah lainnya. ...
Asteroid Terdekat yang Pernah Melewati Bumi, Florence, Akan ‘Numpang Lewat’ 1 September Nanti
22 Agustus 2017, by Rio Nur Arifin
Pada tanggal 1 September, batuan raksasa yang berukuran 4,4 kilometer (2,7 mil) akan melewati bumi. Objek yang terdeteksi paling dekat dengan Bumi sejak NASA ...
Karena Banyaknya Semburan Lumpur Gas,Dewan Mendesak Pembuatan Peta Geologi
8 November 2017, by Admin
Tampangcom – Kasus semburan gas dan lumpur sudah beberapa kali terjadi dan menimbulkan korban luka hingga kerugian material. Namun, hingga kini belum ada ...
rokok
11 Juli 2017, by Ghilman Azka Fauzan
Tampang.com - Memang, warna yang sering kita pakai akan membuat penilaian orang berbeda-beda. Beberapa warna akan membuat kita menjadi kurang menarik begitu ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
hijab