Tutup Iklan
hijab
  
login Register
Peneliti Daur Ulang CO2 Menjadi Etanol dan Etilen

Peneliti Daur Ulang CO2 Menjadi Etanol dan Etilen

20 September 2017 | Dibaca : 559x | Penulis : Rindang Riyanti

Para ilmuwan di Department of Energy's Lawrence Berkeley National Laboratory (Berkeley Lab)telah memanfaatkan proses fotosintesis untuk mengubah karbon dioksida menjadi bahan bakar dan alkohol pada efisiensi yang jauh lebih besar daripada tanaman. Pencapaian tersebut menjadi sebuah tonggak penting dalam upaya untuk bergerak menuju sumber bahan bakar berkelanjutan.

Banyak sistem telah berhasil mengurangi karbon dioksida menjadi bahan peledak dan bahan bakar, seperti karbon monoksida atau campuran karbon monoksida dan hidrogen yang dikenal sebagai syngas. Karya baru ini adalah yang pertama yang berhasil menunjukkan pendekatan untuk mengubah karbon dioksida secara langsung menjadi produk, yaitu etanol dan etilena.

Para peneliti melakukan ini dengan mengoptimalkan setiap komponen sistem elektrokimia fotovoltaik untuk mengurangi kehilangan tegangan, dan menciptakan bahan baru bila yang sudah ada tidak mencukupi.

"Ini adalah perkembangan yang menarik," kata Joel Ager, seorang ilmuwan Berkeley Lab. "Seiring meningkatnya tingkat CO2 di atmosfer iklim bumi berubah, kebutuhan untuk mengembangkan sumber daya yang berkelanjutan semakin mendesak. Pekerjaan kami di sini untuk membuat bahan bakar langsung dari sinar matahari."

Mengubah sinar matahari ke bahan bakar merupakan salah satu tujuan utama penelitian dilakukan di kampus Berkeley Lab, JCAP.

Fokus awal penelitian JCAP adalah mengatasi pemisahan air yang efisien dalam proses fotosintesis.

Kelompok riset di Berkeley Lab menangani tantangan fotosintesis buatan dengan memusatkan perhatian pada komponen spesifik dalam sistem elektrokimia fotovoltaik. Mereka mengembangkan sebuah katalis baru yang dapat mencapai konversi karbon dioksida ke multikarbon dengan menggunakan input energi rendah.

"Dengan bekerja melalui setiap langkah dengan sangat hati-hati, para periset ini menunjukkan tingkat kinerja dan efisiensi yang tinggi," kata ahli kimia Berkeley Lab Frances Houle. "Ini adalah langkah maju yang besar dalam perancangan perangkat untuk pengurangan dan pengujian CO2 yang efisien untuk material baru, dan ini memberikan kerangka kerja yang jelas untuk kemajuan perangkat pengurang CO2 berbasis surya yang terintegrasi."

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Rumput Laut Bisa Jadi Pengganti Plastik Kemasan Loh.. Bisa dimakan Lagi..
13 Juli 2017, by Retno Indriyani
Tampang.com - Air merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan. Sudah banyak inovasi mengenai air baik untuk kebutuhan sehari hari maupun air yang ...
Bolehkah Mengkonsumsi Buah Sebelum Tidur?
21 September 2017, by Ghilman Azka Fauzan
Tampang.com - Mengkonsumsi buah-buahan memang disarankan untuk kita, dengan kandungan vitamin dan serat yang dimilikinya, yang memang dibutuhkan oleh ...
gatot nurmantyo
13 Oktober 2017, by Zeal
tampang - Tentara Nasional Indonesia (TNI) akhirnya memiliki satuan baru bernama Satuan Siber (Satsiber). Satsiber ini diresmikan tadi siang (13/10) oleh ...
you are what you think
23 Juni 2017, by Dony Prattiwa
Suatu hari, Rasulullah saw menjenguk seseorang yang sedang sakit demam. Beliau menghibur dan membesarkan hati orang tersebut. Beliau bersabda, "Semoga ...
Kina Shen, Boneka Hidup dari China
6 Agustus 2017, by Rachmiamy
Melihat foto- foto dari Kina Shen kita pasti bertanya- tanya apakah dia boneka atau manusia. Kina Shen adalah seorang model dan selebgram  asal negeri ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
hijab