Tutup Iklan
JasaReview
  
login Register
Menuju ke Arah "Planet Plastik", Siapkah Kita?

Menuju ke Arah "Planet Plastik", Siapkah Kita?

30 Juli 2017 | Dibaca : 734x | Penulis : Rachmiamy

Hampir setiap orang pasti tidak akan terlepas dari yang namanya bahan plastik dalam aktivitasnya sehari-hari. Plastik memiliki sifat ringan dan kuat, tahan terhadap korosi, transparan dan mudah diwarnai, serta sifat insulasinya yang cukup baik. sifat-sifat bahan plastik inilah yang membuatnya sulit tergantikan dengan bahan lainnya untuk berbagai kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari mulai dari kemasan makanan dan minuman, alat-alat rumah tangga, mainan anak, peralatan belajar, elektronik sampai dengan komponen otomotif. Peningkatan penggunaan bahan plastik ini mengakibatkan peningkatan produksi sampah plastik dari tahun ke tahun.

Menurut penelitian terbaru, sebanyak 9 miliar ton plastik telah diproduksi sejak 1950 dan mayoritas kini memenuhi tanah dan lautan kita.

Seperti telah kita ketahui bersama bahwa plastik sangat sulit terurai dalam tanah, membutuhkan waktu bertahun-tahun dan ini akan menimbulkan permasalahan tersendiri dalam penanganannya.

Dilansir dari nationalgeographic, pakar ekologi industri Roland Geyer kepada BBC News 19 Juli 2017 mengatakan, “Kita sedang menuju ke arah ‘Planet Plastik’, dan jika kita tidak mau tinggal di dunia seperti itu, maka kita harus mulai berpikir ulang mengenai cara penggunakan materi-materi tertentu seperti plastik,” .

Memang plastik bisa didaur ulang menjadi barang baru. Akan tetapi, mayoritas plastik di dunia memang dirancang untuk dibuang. Laura Parker dari National Geographic melaporkan bahwa 40 persen dari plastik non-fiber diproduksi sebagai kemasan yang disobek dan dibuang. Akibatnya, hanya 9 persen dari seluruh plastik di dunia yang didaur ulang, dan sebanyak 54 persen dari plastik yang dibuang adalah kemasan.

Setelah dibuang, plastik kemudian menjadi polusi yang tak terelakkan. Bila dibakar, asapnya menjadi polusi udara yang berbahaya. Namun, bila tidak dibakar, plastik mengotori lingkungan, memenuhi tanah, dan mengisi lautan.

Para peneliti telah memikirkan berbagai cara baru untuk mengatasi masalah polusi plastik. Ada yang mengusulkan untuk menggunakan ulat sebagai pemakan plastik atau menggunakan bakteri untuk mengurainya.

Namun, menurut Geyer, solusi yang paling efektif adalah mengubah ketergentungan kita terhadap plastik.

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Antisipasi Aksi Geng Motor, Polisi Siap Gelar Patroli Setiap Hari
29 Mei 2017, by Retno Indriyani
Tampang.com - Selama Ramadhan 2017 pihak kepolisian akan melakukan patroli skala besar setiap hari di daerah rawan untuk mengantisipasi gangguan keamanan. ...
Wow, Peneliti Ciptakan Jendela yang Bisa Berubah dari Transparan ke Buram dalam Waktu Kurang dari 1 Menit!
20 Agustus 2017, by Rindang Riyanti
Para insinyur Stanford University telah mengembangkan jendela dinamis yang dapat berubah dari transparan ke buram atau kembali lagi dalam waktu kurang dari ...
Rosita, Siswa yang Sempat Heboh dengan Tabungan 42 Juta Ditemukan Meninggal
29 Juli 2017, by Rachmiamy
Rosita (16) salah satu lulusan MTs Negeri di Kabupaten Malang ditemukan meninggal di dalam kamar rumahnya di Dusun Glendangan, Desa Ngingit, Kecamatan Tumpang, ...
anak
21 Juni 2017, by Dony Prattiwa
1. Jika anakmu BERBOHONG, itu karena engkau MENGHUKUMNYA terlalu BERAT.   2. Jika anakmu TIDAK PERCAYA DIRI, itu karena engkau TIDAK MEMBERI dia ...
Olla Ramlan Lahirkan Anak Ketiganya
4 November 2017, by Admin
Tampang.com - Aktris Olla Ramlan akhirnya melahirkan anak ketiga pada Jumat, 3 November 2017. Bayi berjenis kelamin perempuan itu lahir melalui proses caesar ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
hijab