Tutup Iklan
SabunPemutih
  
login Register
Mana yang Lebih Nikmat, Dunia Maya atau Dunia Nyata?

Mana yang Lebih Nikmat, Dunia Maya atau Dunia Nyata?

17 Januari 2018 | Dibaca : 850x | Penulis : Jenis Jaya Waruwu

Kehidupan manusia di berbagai belahan dunia telah mengalami transformasi yang begitu pesat dengan bantuan ilmu pengetahuan yang semakin hari semakin banyak penemuan inovasi teknologi untuk memudahkan aktivitas sehari-hari dalam meningkatkan produktivitas. Salah satu penemuan canggih yang telah mengubah gaya hidup hampir seluruh manusia saat ini adalah gadget.

Ketergantungan manusia pada perangkat canggih ini sudah sangat tinggi, apalagi untuk generasi-generasi milenial yang sudah menganggap gadget adalah bagian dari kebutuhan yang tidak boleh ditinggalkan dalam waktu lama. bahkan ironisnya adalah tidak sedikit orangtua zaman sekarang menjadikan gadget sebagai hiburan dan alat mainan sang anak sekalipun usianya masih sangat kecil dan belum pantas menggunakan gadget. 

Tanpa disadari, teknologi ciptaan manusia ini sendiri telah mengubah pola pikir serta gaya hidup menuju kebisuan. Tentu tidak ada salahnya penggunaan gadget jika digunakan secara kerkala dan tidak bergantung layar gadget Anda, namun sepertinya hal ini sangatlah sulit bagi setiap penggunanya termasuk saya dan Anda bukan?  Sehingga kita tak menyadari bahwa kita semakin jauh dari sosialisasi yang nyata terhadap makhluk lainnya.

Kita akan menjadi lupa dan bersikap tak acuh pada peristiwa yang terjadi di sekitar kita termasuk dalam keluarga. Gadget telah menguasai gaya hidup setiap generasi tanpa terkecuali mulai dari orangtua, remaja, anak muda, bahkan bayi. Semua menatap layar dan seolah-olah dunia media sosial ini terlihat lebih asyik dan menyenangkan dibanding sosialisasi dalam dunia nyata. Mengapa tidak? Melalui gadget yang diperlengkapi berbagai fitur sosial media yang dapat menghubungkan banyak orang dalam waktu bersamaan tanpa batas ruang dan waktu.

Melupakan apa yang menjadi kegiatan-kegiatan positif seperti yang dilakukan generasi sebelumnya, dan beralih pada dunia serba gadget. Menganggap media sosial sebagai tempat terbaik untuk curhat, pamer, alat hiburan, menyindir, dan mendapatkan informasi. Sekali lagi semua itu tidak pernah salah jika masih dalam kewajaran.

Tidak sedikit yang menggunakan waktunya lebih banyak di gadget dibanding sosialisasi di dunia nyata. Akibatnya banyak orang yang makan hanya karena lapar dan tidak menikmatinya, melakukan pertemuan atau silaturahmi sekadar basa-basi karena masing-masing sibuk menatap layar ponselnya, mudah terpengaruh dan percaya terhadap informasi hoax, serta cenderung apatis.

Banyak yang lupa waktu akibat menggunakan gadget seharian, misalnya lupa makan, lupa tidur, lupa belajar, bahkan lupa dengan orang-orang di sekitarnya. Ada yang kecanduan bermain game sehingga lupa akan segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya dan orang lain, serta lupa terhadap kegiatan yang seharusnya diprioritaskan untuk kebaikannya. Melalui gadget juga banyak rumah tangga yang hancur akibat mudah terjadinya perselingkuhan. Kasih sayang orangtua secara tidak langsung menjadi dingin dengan mengandalkan perawat, padahal seyogiyanya anak memerlukan didikan, sentuhan tangan orangtua, didikan moral, pembentukan emosional yang baik dari orangtua kandung.

Akibatnya anak tumbuh dengan tidak seimbang sehingga tidak jarang anak mudah memberontak, dan emosional yang tidak stabil. Penggunaan gadget yang berlebihan dapat menimbulkan kerusahakan pada mata, gangguan saraf, mudah stress, tidak dapat mengendalikan emosi, dan lebih memilih sendiri. Tanpa disadari bahwa berbagi kebahagian dalam dunia nyata akan memberi kepuasan yang tak terbayar. Banyak orang yang lebih mementingkan emoticon pada layar ponsel lebih indah daripada senyuman sesamanya dalam dunia nyata. Padahal emoticon adalah hanya berupa simbol yang belum tentu dapat mewakili perasaan dan mood seseorang secara pasti, artinya orang dapat saja berbohong tanpa diketahui kebenarannya, bukan?

Kadang saya bertanya-tanya pada diri sendiri apakah ini adalah bentuk kehidupan manusia yang sebenarnya? Namun, setelah berpikir panjang dan menyadari bahwa kita bukanlah makhluk media sosial, kita adalah makhluk sosial. Artinya kita adalah makhluk yang membutuhkan sesama makhluk lainnya dan membutuhkan tindakan sosial nyata terhadap makhluk lainnya.

Perlahan belajarlah untuk menjadi makhluk sosial dan bukan makhluk media sosial. Gunakan gadgetmu dengan bijak dan sapalah orang sekitarmu, berilah senyuman pada mereka, dan berbagilah kebahagian kepada orang sekelilingmu apakah itu teman sekolah, keluarga, rekan kerja, teman kuliah, bahkan orang tidak kamu kenal sekalipun. Karena dunia nyata akan selalu lebih indah dibanding dunia maya.

 

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Infeksi Zika Setelah Lahir Mungkin Memerlukan Tindak Lanjut Jangka Panjang
5 April 2018, by Slesta
Bayi yang mengontrak virus Zika pada awal masa bayi harus memiliki pemantauan jangka panjang, demikian menurut penelitian hewan baru. Para peneliti ...
Amien dan Prabowo bertemu Saat Umroh di Makkah, Didoakan bawa Berkah
2 Juni 2018, by Zeal
Tampang.com - Sandiaga Uno mendoakan agar ibadah umroh yang tengah dijalankan oleh Prabowo Subianto bersama dengan Amien Rais dapat dimakbulkan oleh Allah ...
Kisah Menyentuh Hati
17 Juni 2017, by Dony Prattiwa
Seorang ayah membawa pulang sekilo daging dan setengah kilo hati sapi ke rumah. Lalu si ayah memberikan daging dan hati tersebut kepada ...
Terciduk, Mahasiswa Stikom Surabaya Kelompok Hacker Internasional
16 Maret 2018, by Rahmat Zaenudin
Tampang.com - Beberapa hari lalu beredar berita mahasiswa Komputer salah satu perguruan tinggi ternama di Surabaya STIKOM  telah ditangkap oleh Subdit ...
Elektabilitas Asyik Tertinggal Jauh, Ada Apa?
27 Mei 2018, by Slesta
Tampang.com – Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh ILMA Research and Consulting terkait elektabilitas keempat calon gubernur dan wakil gubernur ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
powerman