Tutup Iklan
JasaReview
  
login Register
Lakukan yang Terbaik yang bisa Kita Lakukan

Lakukan yang Terbaik yang bisa Kita Lakukan

27 Juni 2017 | Dibaca : 4812x | Penulis : Rahmat Zaenudin

Tampang.com- salah seorang Profesor yang merupakan guru besar di Universitas Negeri Solo hendak melakukan perjalanan dari yogyakarta ke Jakarta dengan menggunakan pesawat. Karena keberangkatan pesawat ditunda selama 1 jam, sang profesor meluangkan waktunya dengan meminum kopi di saah satu Lounge Bandara Adisucipto. Di depan beliau kebetulan duduk seorang ibu yang sudah tua dengan mengenakan pakaian jawa tradisional yaitu kain batik dan kebaya.

"Mau pergi ke Jakarta bu" tanya sang profesor. dijawab oleh si ibu, "Iya nak, hanya transit ke Cengkareng terus mau ke Singapura" jawab si ibu.Lebih jauh sang profesor bertanya lagi "kalau boleh tau, ada keperluan apa ibu pergi ke Singapura."Menengok anak saya yang nomor dua, istrinya melahirkan disana dan saya diberi tiket dan diuruskan pasport untu ke Singapura" Jelas si ibu.

"Putranya kerja di Singapura bu? ibu punya anak berapa? tanya kembali sang profesor ( kepo yaa ). "Anak saya yang kedua ini kerja di perusahaan perminyakan asing, sekarang jadi Kepala cabang di Singapura, anak saya yang ketiga, laki-laki, kerja jadi dosen di Fakultas Ekonomi UGM dan sekarang sedang ambil program doktor di Amerika, anak saya keempat si bungsu, perempuan, kerja Dokter Spesialis Anak di Surabaya" Jelas si Ibu panjang lebar.

"Kalau anak pertama ibu, kerja dimana? maaf ni bu, saya banyak tanya" kata profesor lagi.

"kalau anak saya yang pertama jadi petani di kampung, ngurusin sawah warisan ayahnya" jawab ibu lagi.

Sejenak sang profesor terdiam dan tertegun, kemudian melanjutkan pertanyaannya dengan pelan dan hati-hati karena takut menyinggung perasaan si ibu, "Tentunya ibu kecewa yaa dengan anak sulung ibu, adik-adiknya sarjana dan bekerja dan sudah sukses, tapi anak sulung ibu malah jadi petani saja".

"Ohh..sama sekali saya tidak kecewa nak, malahan kami sekeluarga sangat menaruh rasa hormat kepada dia, karena dengan dia jadi petani, dari hasil sawahnya, dia membiayai semua kebutuhan hidup kami sekeluarga dan menyekolahkan adik-adiknya sampai mereka sukses" sahut si ibu dengan bangga.

Sang profesor kembali termenung, ternyata yang penting bukan apa dan siapa kita ini, tapi yang terpenting apa yang sudah kita perbuat. Sebuah pelajaran hidup yang mengajarkan agar kita melakukan yang terbaik untuk bisa dilakukan. 

Dengan sedikit berlinang air mata karena terharu, sang profesor menanyakan ke si ibu, "Bu, siapa nama anak sulung ibu yang sangat luar biasa ini"

Si ibu menjawab : "MUKIDI"

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Manfaat Olahraga bagi Kehamilan Menurut Ilmuwan
21 Agustus 2017, by Rindang Riyanti
Peneliti mengumpulkan dan memeriksa ulang data percobaan klinis pada olahragaselama kehamilan dan apakah ia berperan dalam kelahiran prematur, dan menemukan ...
Waduhh!! Patah Hati Bisa Buat Orang Mati, Serius??
9 Maret 2018, by Ghilman Azka Fauzan
Tampang.com - Nikki Stamp, seorang ahli kesehatan jantung asal Australia menyatakan bahwa sakit hati secara emosi ternyata benar-benar mampu pengaruhi ...
Donald Trump Anggap AS Bodoh Berikan Bantuan Rp 450 Triliun Pada Pakistan
2 Januari 2018, by Retno Indriyani
Tampang.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terus menerus melontarkan pernyataan-pernyataan yang banyak menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan. ...
game anak
27 Juli 2017, by Ghilman Azka Fauzan
Tampang.com - Tidak semua video game layak untuk dimainkan oleh semua umur. Terdapat beberapa game yang mengandung unsur kekerasan, dewasa, ataupun aksi-aksi ...
3 Faktor yang Bikin Gatot Nurmantyo Harus Dihentikan
12 April 2018, by Gatot Swandito
Entah siapa yang mengomandoinya. Tetapi, terlihat sangat begitu jelas jika sejak dua minggu terakhir ini serangan-serangan yang dibidikkan ke arah Gatot ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
hijab