Tutup Iklan
Tryout.id
  
login Register
 Bagaimana Tubuh Deteksi Tanda Awal Kanker?

Bagaimana Tubuh Deteksi Tanda Awal Kanker?

19 Agustus 2017 | Dibaca : 468x | Penulis : Rindang Riyanti

Pengetahuan tentang bagaimana sel mendeteksi kerusakan DNA mereka - ciri khas kanker - dapat membantu menjelaskan bagaimana tubuh mencegah penyakit.

Para ilmuwan telah menemukan bagaimana kerusakan pada bahan genetik sel dapat memicu peradangan, mengatur proses gerak untuk menghilangkan sel yang rusak dan menjaga jaringan tetap sehat.

Temuan ini memberi gambaran baru tentang seberapa berpotensi sel kanker ditandai, sehingga bisa diangkat sebagai bagian dari sistem pengawasan alami tubuh sebelum terbentuk tumor.

Sebuah molekul kunci yang disebut cGAS diketahui mengikat DNA, memicu peradangan. Sampai sekarang, tidak jelas bagaimana hal ini terjadi karena DNA biasanya terpisah secara fisik dari sel yang lain di dalam kompartemen yang disebut nukleus.

Ketika kerusakan terjadi, fragmen DNA bisa terpisah dari nukleus dan bentuk struktur yang disebut mikronuklei.

Periset di Unit Genetika Genetika MRC di Universitas Edinburgh menemukan bahwa cGAS dapat menembus mikronuklei ini dan mengikat DNA, memulai mekanisme yang menyebabkan peradangan.

Karena kerusakan DNA sering merupakan salah satu langkah awal dalam pengembangan kanker, deteksi mikronuklei oleh cGAS dapat menjadi sistem alarm awal yang penting yang memungkinkan tubuh manusia mendeteksi dan menghilangkan sel-sel yang berpotensi kanker.

Tim tersebut mengatakan bahwa temuan mereka juga dapat menjelaskan bagaimana peradangan terjadi pada beberapa jenis penyakit autoinflammatory, di mana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh sendiri.

Penelitian yang dipublikasikan di Nature ini didanai oleh Medical Research Council dan Newlife - The Charity for Disabled Children.

Penulis utama Dr. Karen Mackenzie, dari Unit Genetika Genetika MRC di Universitas Edinburgh, mengatakan: "Temuan kami menyediakan mekanisme baru yang mungkin untuk bagaimana tubuh melindungi dirinya dari kanker, namun dalam beberapa keadaan malah dapat memicu penyakit inflamasi."

Dr Martin Reijns, Senior Research Fellow di MRC Human Genetics Unit, mengatakan: "Kami berharap bahwa penelitian ini akan menginformasikan studi masa depan mengenai pengembangan pendekatan terapeutik yang lebih baik."

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Ternyata Tidak Hanya di Indonesia Telegram Diblokir
16 Juli 2017, by Ghilman Azka Fauzan
Tampang.com - Aplikasi pesan singkat Telegram ramai diperbincangkan akibat proses pemblokiran aplikasi ini oleh Kemkominfo. Bahkan hingga ada petisi yang ...
KONI akan Awasi Anggaran Setiap Cabang Olah raga
1 November 2017, by Admin
Tampang.com  - Pembubaran Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) diharapkan bakal memudahkan jalur birokrasi anggaran untuk cabang ...
6 Tanda Anda Menikmati Pekerjaan di Perusahaan yang Tepat
10 Juli 2018, by Jenis Jaya Waruwu
Menemukan pekerjaan yang cocok dengan passion kita tidak mudah. Namun, saat kita berhasil menemukan pekerjaan yang tepat maka bisa dipastikan kita akan bekerja ...
Trend Makeup di Asia terutama Korea dan Jepang
22 Agustus 2017, by Rahmat Zaenudin
Tampang.com - Setiap wanita selalu ingin tampil cantik dan menawan disetiap suasana dan kesempatan dimana saja. Tak ayal kadang banyak cara yang dilakukan para ...
NKRI harga mati
17 Mei 2017, by Tonton Taufik
Sebuah negara demokrasi yang baik yaitu sebuah keputusan dengan mementingankan kepentingan orang yang lebih banyak. Saat ini demokrasi di Indonesia sedang ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
hijab