Tutup Iklan
hijab
  
login Register
 Bagaimana Tubuh Deteksi Tanda Awal Kanker?

Bagaimana Tubuh Deteksi Tanda Awal Kanker?

19 Agustus 2017 | Dibaca : 375x | Penulis : Rindang Riyanti

Pengetahuan tentang bagaimana sel mendeteksi kerusakan DNA mereka - ciri khas kanker - dapat membantu menjelaskan bagaimana tubuh mencegah penyakit.

Para ilmuwan telah menemukan bagaimana kerusakan pada bahan genetik sel dapat memicu peradangan, mengatur proses gerak untuk menghilangkan sel yang rusak dan menjaga jaringan tetap sehat.

Temuan ini memberi gambaran baru tentang seberapa berpotensi sel kanker ditandai, sehingga bisa diangkat sebagai bagian dari sistem pengawasan alami tubuh sebelum terbentuk tumor.

Sebuah molekul kunci yang disebut cGAS diketahui mengikat DNA, memicu peradangan. Sampai sekarang, tidak jelas bagaimana hal ini terjadi karena DNA biasanya terpisah secara fisik dari sel yang lain di dalam kompartemen yang disebut nukleus.

Ketika kerusakan terjadi, fragmen DNA bisa terpisah dari nukleus dan bentuk struktur yang disebut mikronuklei.

Periset di Unit Genetika Genetika MRC di Universitas Edinburgh menemukan bahwa cGAS dapat menembus mikronuklei ini dan mengikat DNA, memulai mekanisme yang menyebabkan peradangan.

Karena kerusakan DNA sering merupakan salah satu langkah awal dalam pengembangan kanker, deteksi mikronuklei oleh cGAS dapat menjadi sistem alarm awal yang penting yang memungkinkan tubuh manusia mendeteksi dan menghilangkan sel-sel yang berpotensi kanker.

Tim tersebut mengatakan bahwa temuan mereka juga dapat menjelaskan bagaimana peradangan terjadi pada beberapa jenis penyakit autoinflammatory, di mana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh sendiri.

Penelitian yang dipublikasikan di Nature ini didanai oleh Medical Research Council dan Newlife - The Charity for Disabled Children.

Penulis utama Dr. Karen Mackenzie, dari Unit Genetika Genetika MRC di Universitas Edinburgh, mengatakan: "Temuan kami menyediakan mekanisme baru yang mungkin untuk bagaimana tubuh melindungi dirinya dari kanker, namun dalam beberapa keadaan malah dapat memicu penyakit inflamasi."

Dr Martin Reijns, Senior Research Fellow di MRC Human Genetics Unit, mengatakan: "Kami berharap bahwa penelitian ini akan menginformasikan studi masa depan mengenai pengembangan pendekatan terapeutik yang lebih baik."

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Eksotisme Terumbu Karang Negeri Palau
21 Juli 2018, by Maman Soleman
Objek wisata yang tidak boleh Anda lewatkan kali ini ialah berkunjung ke negara kepulauan Palau yang terletak di Samudra Pasifik, tepatnya sekitar 500 km ...
Makanan Penghambat Proses Penuaan
12 April 2018, by Retno Indriyani
Tampang.com - Penuaan merupakan proses alami pada tubuh yang pasti dialami setiap individu. Namun hal ini bisa dicegah atau ditunda agar tidak datang terlalu ...
Carlo Ancelotti Kandidat Kuat Pelatih Timnas Italia
18 November 2017, by Admin
Tampang.com - Carlo Ancelotti menjadi kandidat paling kuat untuk jadi suksesor Giampiero Ventura sebagai pelatih Timnas Italia. Akan tetapi, ada satu syarat ...
Daya Tarik Pasangan Picu Para Wanita Berdiet
21 Agustus 2017, by Rindang Riyanti
Di dunia penampilan saat ini, citra tubuh bisa menjadi pengaruh yang kuat pada pilihan dan perilaku kita, terutama yang berkaitan dengan diet. Citra itu ...
Aduh, BIN Larang Pegawainya Berjenggot?
19 Mei 2017, by Zeal
Badan Intelijen Negara (BIN) membenarkan telah menerbitkan surat edaran bernomor SE-28/V/2017 bertanggal 15 Mei 2017 mengenai larangan bagi pegawai di lembaga ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
hijab