Tutup Iklan
JasaReview
  
login Register
“RANGKAIAN”Ibadah Haji yang Tidak Harus Ada..

“RANGKAIAN”Ibadah Haji yang Tidak Harus Ada..

2 September 2017 | Dibaca : 456x | Penulis : Muhammad Jeffrey Fakhrurozy

“Assalaamu’alaikum Warohmatulloh…” Imam sholat menoleh ke arah kanan. “Assalaamu’alaikum…” kemudian menoleh ke kiri. Cak Munir tepat di belakang imam sholat, sedangkan Sukamto ada di kirinya. Perang bathin dirasakan oleh Cak Munir. Semoga beliau tetap khusyuk ketika sholat isyak tadi. Tidak seperti biasanya, kali ini Cak Munir menggunakan lafadz-lafadz dzikir pendek diikuti doa secukupnya dan segera mengusapkan tangannya ke wajah. Masih terngiang di telinganya kalimat yang terlontar dari mulut Sukamto, “Ibadah Haji Itu MAHAL BANGET!!”. Segera ia bangkit dari duduk kemudian menuju depan pintu masjid. Berkali-kali beliau menengok ke dalam, sambil mondar-mandir. “Mari… Cak Munir, Assalaamu’alaikum..” Sapa salah satu jama’ah sholat isyak yang keluar masjid. Tanpa memandang siapa sosok yang telah menyapanya itu, beliau menjawab “Wa’alaikumussalam..”.

Tak lama kemudian dalam hati Cak Munir gelisah, “Astaghfirulloh… Saya tadi bersikap tidak selayaknya saudara iman, bahkan siapa sosok yang tadi menyapaku pun aku tak tahu… Astaghfirulloh!!! Seharusnya tadi aku tidak sekedar menjawab salamnya, seandainya bisa kuulang aku akan memandang wajah sosok itu, kemudian menjabat tangannya, dan tersenyum seraya menjawab salamnya…”. Bagaikan balon hijau, kegelisahan Cak Munir meletus akibat tepukan dari arah belakang. Ternyata itu adalah Sukamto.

Sukamto       :     “Woey…. Nglamunin apa Cak Munir??!” (dengan nada mengagetkan)

Cak Munir     :     “Allohu Akbar!!! (meloncat kaget)

                                Ohh… Kamu to, Sukamto…!!! Kamu itu… ngagetin saja…” (pasang muka sebel)

Sukamto       :     “Iya maaf, Cak… hehehe (meringis)

                                Lha sampean itu lo ngapain di depan pintu nglamun gitu…???”

Cak Munir     :     “Lha ya… Aku ini tadi nungguin kamu lo…!!” (dengan nada berapi-api)

Sukamto       :     “Waduhh... Kenapa nungguin saya, Cak?” (bingung)

Cak Munir     :     “Ibadah Haji Itu MAHAL BANGET!!” (pasang muka sinis)

Sukamto semakin kebingungan mendengar jawaban Cak Munir. Mungkin efek sholat isyak yang sangat khusyuk ya sampai lupa sama pembicaraannya dengan Cak Munir sebelum sholat isyak tadi.

Cak Munir     :     “Kamu lupa ya?! (masih dengan nada berapi-api)

                                Tadi kamu bilang kalau Ibadah Haji Itu MAHAL BANGET!!, belum lagi kalau ditambah biaya tasyakuran, oleh-oleh dan lain-lain. Iya kan?!

Sukamto       :     “Ohh… Iya Cak, Aku baru ingat. Bener kan ya aku? Memang Ibadah Haji Itu MAHAL BANGET!! kok…” (dengan senyuman kecutnya)

Cak Munir     :     “Heh!! Acara tasyakuran, mengundang warga kampong, menyediakan hidangan dan bingkisan serta memberi oleh-oleh, itu tidak harus ada! (dengan nada tinggi)

Jreng jreng jreng… Suasana mulai sunyi, namun bukan Sukamto namanya kalau tidak pandai membela diri.

Sukamto       :     “Tapi kan di kampung ini budaya nya seperti itu, Cak!”

Cak Munir     :     “Ingat! TIDAK HARUS ADA!!!

                                Kalau bersyukur pada Alloh SWT atas kenikmatan-Nya yaitu kita bisa melaksanakan ibadah haji, itu wajib[1], tapi mengadakan acara tasyakuran itu tidak harus ada!” (menjelaskan kepada Sukamto dengan semangat 45)

Sukamto       :     “Ya nanti seandainya saya berangkat haji dengan tanpa mengadakan tasyakuran dan tanpa memberi oleh-oleh, malah digunjing sama warga kampong. Dikatakan pelit lah, apa lah!!!” (diikuti gerakan tangan dan kaki yang aduhai)

Cak Munir     :     “Hah…? Berarti yang bermasalah adalah hati kamu, To!!

                                Hayoo… ditata lagi niatnya. Kamu mengadakan acara tasyakuran itu karena takut digunjing sama orang-orang? atau dalam rangka bersyukur pada Alloh SWT?” (menyahut jawaban Sukamto)

Sukamto       :     “Iya sih, Cak.” (menjawab lirih)

Cak Munir     :     “Gini lo, To!! Kita beramal ibadah itu…

                                Aduuhh…. Mmmhhh…” (seperti menahan sesuatu)

Sukamto       :     “Hloh, kenapa Cak?”

Cak Munir     :     “Ini lo, To. Anuu… emmmhhh… Sebentar.. Udah dulu ya….” (lari terbirit-birit)

***BERSAMBUNG***

Mohon maaf ya Tampang sholih-sholihah, obrolan hangat antara Cak Munir dengan Sukamto harus diakhiri dulu, karena Cak Munir harus segera membuang hajatnya… hehehe. Sambil menunggu Cak Munir bertapa nikmat (wkwkwk), kita barokahkan waktu untuk mengkaji rujukan nomer 1 ( [1] ) ya.

[1] adalah ayat Al Quran Surat Ibrohim ayat 7 yang berisi :

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memberi pengumuman : Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian, tetapi jika kalian kufur (tidak mensyukuri nikmat-Ku), maka ketahuilah bahwa adzab-Ku niscaya sangat berat”

Ayat tersebut membahas tentang reward jika kita mau bersyukur atas nikmat Alloh SWT, yaitu nikmat kita akan ditambah. Selain itu juga membahas tentang warning jika kita tidak mau bersyukur atas nikmat Alloh SWT, yaitu kita akan mendapatkan siksaan yang sangat berat. Oleh karena mengandung perintah dan ancaman, maka bersyukur kepada Alloh SWT menjadi wajib bagi kita.

Bersyukur kepada Alloh SWT dapat dilakukan melalui 3 tahap, yaitu dengan hati, dengan lisan dan dengan perbuatan. Bersyukur dengan hati diantaranya adalah ketika kita bertambah iman bahwa yang Maha Pemberi itu hanyalah Alloh SWT, kemudian kita merasa semakin rendah dan hina di hadapan Alloh SWT bahwa kita hanyalah budak dan hamba Alloh yang wajib menyembah Alloh SWT. Adapun bersyukur dengan lisan diantaranya adalah ketika kita melafadzkan lafadz-lafadz hamdalah atau kalimat-kalimat thoyyibah yang lain. Bersyukur dengan perbuatan adalah ketika kita semakin taqorrub ilaa Alloh (mendekatkan diri pada Alloh SWT), menertibkan ibadah wajib dan meningkatkan ibadah sunnah.

Ketika kita mendapat nikmat dari Alloh SWT berupa bisa melaksanakan ibadah haji, kita WAJIB bersyukur, yaitu diawali dengan hati, kemudian ditampakkan dengan lisan, selanjutnya diimplementasikan dengan perbuatan. Salah satu contoh bersyukur dengan perbuatan adalah dengan mengadakan “Acara Tasyakuran”. Ini adalah hal yang baik. Namun ketika sudah terjadi kesalahpahaman, dimana “Acara Tasyakuran” itu dianggap harus ada bahkan mungkin wajib, sehingga menyebabkan umat berkurang rasa semangat untuk melaksanakan ibadah haji karena terkesan dengan BIAYA IBADAH HAJI YANG SEOLAH MAHAL, maka kami tekankan lagi bahwa “Acara Tasyakuran” itu bukan rangkaian ibadah haji. Kalau pun toh terpaksa disebut sebagai rangkaian ibadah haji, maka sekali lagi kami tekankan bahwa “Acara Tasyakuran” itu merupakan “RANGKAIAN” Ibadah Haji yang Tidak Harus Ada!!

Semoga Alloh SWT memberikan manfaat dan barokah. Aamiiin…

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Awas, Lebih Berbahaya dari Kokain, "Flakka" Bisa Menjadikan Penggunanya seperti Zombie!
27 Mei 2017, by Zeal
Tidak banyak yang mengetahui di luar sana ada jenis narkoba baru bernama flakka atau alpha-Pyrrolidinopentiophenone yang mendatangkan bahaya bagi penggunanya ...
Amien Rais Apresiasi Penulis Buku Dugaan Korupsi Ahok
24 Mei 2017, by Retno Indriyani
Tampang.com - Tokoh reformasi Amien Rais memuji upaya yang dilakukan direktur eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS), Marwan Batubara dalam meluncurkan ...
Kemuliaan Ramadan dan Mimpi Thalhah di Depan Pintu Surga
27 Mei 2017, by Zeal
RAMADAN telah tiba. Bulan agung penuh berkah, waktu di mana umat Islam dibukakan berjuta kebaikan oleh Allah SWT. Salah satu keutamaan Ramadan dikisahkan ...
Ingin Coba Pancake? Ini Resepnya
1 Februari 2018, by Ghilman Azka Fauzan
Tampang.com - Bosan dengan menu sarapan lokal? Jika iya, bagaimana dengan mencoba salah satu sarapan khas Barat, yakni Pancake. Pancake atau pannenkoek ...
Penangguhan Reklamasi Pulau C dan D dicabut, Akankah Pulau G menyusul ?
12 September 2017, by Alfi Wahyu Prasetyo
Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan membenarkan pihaknya mencabut moratorium izin  reklamasi teluk Jakarta, yaitu di Pulau C dan D. ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
hijab